30 Mahasiswa Tahuna Nyaris Terlantar di Jakarta

Jakarta –  Tiga puluh mahasisiwa-mahasisiwi Universitas Politeknik Negeri Nusa Utara Tahuna usai menjalani magang di Davao Filipina sempat terlantar di Bandara Soekarno Hatta akibat ketinggalan pesawat.


Beruntung salah satu mahasiswi kenal dengan seorang staf asal Sangihe yang bekerja di Kantor Badan (Kaban) Penghubung Pemprov Sulut Jakarta dan minta tolong mengenai keberadaan mereka yang tidak tahu harus kemana akibat pesawat yang hendak ditumpangi telah berangkat.


Lisa salah satu mahasiswi Fakultas Perikanan mengukapkan, ada 30 mahasiswa, 27 orang bagian keperawatan dan 3 orang bagian perikanan yang mengikuti tranning praktis selama satu bulan di General Santos City dan Davou Filipina. 


“Saat kembali dari Filipana ke Jakarta tanggal 20 Agustus 2013, pesawat sempat delay akibat cuaca buruk, sehingga mengalami penundaan keberangkatan. Seharusnya tiba di Jakarta pukul 24.00 WIB malam, karena delay tiba pukul 04.50 WIB sementara pesawat ke Manado pukul 05.15 sudah berangkat. Akibat terlambat tiket hangus, kita  tidak tahu harus bagaimana?,” ujar Lisa didampingi rekan-rekannya di ruang Kantor Kaban Penghubung, Rabu (21/08/2013).


Sebelumnya, Merry staf kantor Penghubung menghubungi Kaban Penghubung Ir Jemmy Kuhu dan atas inisiatif beliau 30 mahasiswa Tahuna dibawa ke Kantor Penghubung. “Sebagai warga Sulut yang mengalami kesusahan di Jakarta, Kantor Penghubung memberikan pertolongan dan memfasilitasi keberadaan mereka di Jakarta,” ungkap Kuhu.


Setelah itu Kuhu minta ke Pdt Jacob Nahuway selaku Ketua Umum Gereja Bethel Indonesia agar menerima 30 mahasiswa Tahuna untuk bisa ditampung di Graha Bethel Jl. Ahmad Yani Jakarta Pusat tepat di sebelah gedung Hotel Kawanua. “Bersyukur Pdt Yacob Nahuway memberi 5 kamar besar dengan fasilitas lengkap sebagai tempat menginap para mahasiswa. Kantor Penghuung hanya membantu dengan makan dan fasilitas transportasi sambil menunggu keberangkatan kembali ke Manado namun belum tahu kapan para mahasiswa ini berangkat,” kata Kuhu.


Sementara pihak kampus sebagai pihak yang membiayai keberangkatan dan kepulangan para mahasiswa yang dihubungi salah satu siswanya mengatakan, akan mengusahakan tiket secepatnya.


Diana salah satu siswi Fakultas Kesehatan bagian Keperawatan menuturkan pengalaman yang didapat dari magang di Filipina. Di Brokenshire Hospital Filipina banyak memperoleh ilmu serta cara penanganan pelayanan rumah sakit yang baik.


“Rumah sakit disana sangat bersih dengan alat-alat yang canggih dan steril. Pelayanannya luar biasa. Pasien dilayani tidak diminta uang dulu, dilayani dulu baru ditanya mengenai biaya, bila tidak mampu baru dirujuk kerumah sakit yang sesuai biaya pasien tetapi pasien tersebut telah ditangani dulu, berbeda dengan di Tahuna,” ulasnya.


Disana, ungkap Diana, semua alat dipakai satu kali, seperti sarung tangan satu kali pakai, sementara di Tahuna seringkali dipakai beberapa kali. Kami para peserta dari Indonesia sebelum masuk kerumah sakit tersebut harus di vaksin. Disana para perawat divaksin setiap empat bulan sekali. “Pokoknya kita banyak memperoleh ilmu yang baru. Para Dokternya tidak pelit ilmu,” tegasnya.


Hal lain dikisahkan Lisa mengenai sistem perikanan di Davao. Penaganan ikan di Davao cukup bersih, cepat dan tepat waktu. Anehnya di pelabuhan itu tidak nampak lalat meskipun darah ikan ada yang berceceran juga tidak ada bahan bakar kapal yang tumpah di dermaga.


Mereka berujar, ketika kembali ke Tahuna akan menerapkan ilmu yang didapat dari Filipina serta berharap Pemkab Sangihe dan instansi terkait bisa memberi dukungan penuh.

Sambil menunggu kepulangan yang belum pasti, Kantor Penghubung memberi kesempatan mereka menikmati tempat-tempat wisata yang ada di Jakarta dengan menggunakan kendaran Kantor Badan Penghubung.

Leave a Reply