Ada 'Udang Dibalik Batu' Penamaan Ringroad Jadi Jalan Dr SH Sarundajang

Manado – Mengenai jalan Lingkar Manado (Ringroad) menjadi Jalan Dr SH Sarundajang oleh Gerakan Anti Separatis (GAS) Sulut ditanggapi Albert Kusen, Akademisi Fisip Unsrat Manado, Rabu 18 Juli 2013 di Cafe Rike 43. 


Menurut Kusen yang biasa disapa ‘Mneer’ Berni ini, gagasan untuk jalan Sarundajang adalah ide cemerlang yang patut disikapi secara positif oleh seluruh warga Sulut.


“Bagaimanapun juga kita tahu bersama siapa figur atau tokoh  yang dijadikan jalan tersebut. Meskipun demikian supaya ide cemerlang ini tidak mengalami distorsi atau bias, misalnya ada tanggapan lain dari warga, bahwa dilihat dari latar sejarah ide jalan ringroad konon penggagas pertama adalah mantan Gubernur Sulut, Letjen (purn) Gustaf H Mantik, hal ini kiranya mohon dipertimbangkan,” jelas Kusen.


Lanjutnya, karena kriteria menamai suatu jalan harus dilihat dari latar sejarah jalan tersebut, terutama untuk menentukan siapa tokoh yang sebenarnya berperan terwujudnya jalan ringroad tersebut. “Ini harus diklarifikasi oleh orang-orang yang benar-benar mengetahui histori dari jalan ringroad itu,” tegas Kusen.


Sorotan lainnya juga dikatakan, Nyongky Lesar, Ketua DPD Petani dan Nelayan (Tanel) Persatuan Indonesia (Perindo) Sulut. Kata Nyongky, pihak terkait mohon penjelasan secara benar mengenai penentuan jalan ringroad dengan nama Sarundajang. 


“Seharusnya sebelum kita menamai jalan yang notebene milik publik, harus ada kajian yang benar. Sehingga penamai jalan ringroad dengan nama Sarundajang jangan-jangan ada ‘udang dibalik batu’. Saya pertanyakan mengenai penamaan jalan yang adalah milik publik oleh kepentingan lain atau golongan ini,” tukas Ketua organisasi sayap Perindo ini.


Seperti diketahui beberapa waktu lalu,  Gerakan Anti Separatis (GAS) Sulut dengan gamblangnya mencanangkan jalan ringroad sebagai jalan Dr SH Sarundajang dengan  alasan ini merupakan bentuk penghargaan kepada Gubernur Sulut yang intens menggelorakan pluralisme di daerah ini. Bahkan, Sulut telah menjadi pilot projec indahnya pluralisme.    

 

Leave a Reply