Aksi Solidaritas Untuk Lima Aktivis Lingkungan Hidup di Sukoharjo

MANADO – Sidang putusan lima aktivis lingkungan hidup yang dituding sebagai penyebab kericuhan di pabrik PT Rayon Utama Makmur (RUM) Sukoharjo, Jawa Tengah, memicu aksi solidaritas dari Pusat Perjuangan Mahasiswa Untuk Pembebasan Nasional (Pembebasan) Manado, Selasa (7/8/2018).

Puluhan mahasiswa ini mendatangi Pengadilan Negeri (PN) Manado. Melalui Kordinator Lapangan, Darius Muna, para peserta aksi mengatakan, bahwa kelima aktivis lingkungan hidup yang disidangkan di PN Semarang adalah korban kriminalisasi PT RUM.

“Sehingga kami menuntut, bebaskan lima aktivis tanpa syarat. Tutup PT RUM. Tangkap dan penjarakan Pengusaha PT RUM,” ujar Darius.

Ketua PN Manado Lukman Bachmid merespon positif aksi solidaritas para mahasiswa ini. Di depan para peserta aksi, Ia mengatakan, sebagai bagian dari aparat penegak hukum, pihaknya tentu mendukung perjuangan para peserta aksi demi tegaknya keadilan. Meski begitu, dirinya tak mau berkomentar lebih soal kasus yang sedang diperkarakan itu.

“Kami tentu mendukung aksi solidaritas adek-adek,” aku Bachmid.

Patut diketahui. Kelima aktivis yang jadi terdakwa masing-masing M Hisbun Payu, Sutarno, dan Brillian Yosef Nauv, serta Kelvin Ferdiansyah Subekti dan Sukemi Edi Susanto.

Hasil putusan Majelis Hakim di PN Semarang yang digelar 7 Agustus 2018 kemarin, Hisbun, Sutarno dan Brillian dinyatakan terbukti melanggar Pasal 406 KUHP tentang perusakan. Hisbun dijatuhi hukuman 2 tahun 3 bulan penjara, sedangkan Sutarno dan Brillian dijatuhi hukuman 2 tahun penjara.

Kelvin dan Sukemi dianggap Hakim terbukti melanggar Pasal 187 dan 406 KUHP. Keduanya dijatuhi hukuman 2 tahun 3 bulan penjara.

Kasus ini berawal dari kericuhan yang terjadi di Pabrik PT RUM 23 Februari 2018 lalu. Selang berapa bulan kemudian tepatnya pada tanggal 4 Maret 2018 kelima aktivis ditangkap atas tudingan penyebab kericuhan.

Berdasarkan selebaran yang disebarkan para peserta aksi di PN Manado, PT RUM dituding sebagai penyebab masalah karena limbah pabrik tersebut diduga meracuni lingkungan di tiga kabupaten yakni; Sukoharjo, Karanganyer dan Wonogiri.

Warga yang merasa dirugikan oleh limbah PT RUM diketahui sudah lima kali melapor ke pihak kepolisian. Sayangnya aksi protes dan laporan warga ini tidak ditanggapi serius. Padahal pencemaran tersebut telah menimbulkan korban orang dewasa dan balita.

“PT RUM sendiri hanya diberi sanksi administratif berupa penghentian produksi sementara. Rakyat yang memperjuangkan haknya atas lingkungan hidup yang baik dan sehat justru dikriminalisasi,” beber Darius Muna selaku ketua aksi.  (Posumah)

Leave a Reply