Dengan Kekuatan Doa, Meydi Warga Bitung Mampu Bertahan di Tengah Laut Bergelombang

Tampak Meidy Bukunusa (baju biru) saat di rawat di RSUD Lapangan Sawang.

Sitaro Ulu – Peristiwa tenggelamnya kapal KM Baku Sayang 03, Minggu (20/8), menjadi cerita sedih serta sebuah pengalaman luar biasa buat Meydi Bukunusa (39), warga Wangurer Kelurahan Paceda Kecamatan Madidir yang selamat dari kecelakaan tersebut. 

Bagaimana tidak, perjuangan Bukunusa melawan kerasnya terjangan gelombang laut di perairan Pulau Siau dan Pulau Tagulandang selama satu hari dua malam adalah suatu keajaiban.

Terombang-ambing oleh gelombang laut dengan tinggi 3-4 meter, melawan dinginnya suhu udara di malam hari serta panas matahari pada siang hari. Namun, dengan satu tekad untuk selamat dan disertai topangan doa, ia berhasil melewati segala rintangan.

“Hanya dengan belas kasihan dari Tuhan, saya bisa selamat. Saya selalu memanjatkan doa untuk meminta pertolongan dari Tuhan,” ucap dia, di RSUP Lapangan Sawang, Senin (21/8).

Menurut dia, tanpa campur tangan Tuhan ia tidak akan selamat dari amukan gelombang laut tanpa ada makanan dan minuman.

“Saya memakan apapun yang dijumpai. Gabus pun menjadi salah satu makan saya untuk bertahan hidup,” beber dia. Tanpa makanan yang memadai membuat tubuh Bukunusa menjadi lemas.

Ia ditemukan Senin (21/8) sekitar pukul 06.00 Wita oleh nelayan di perairan Kampung Nameng Kecamatan Siau Barat, dalam keadaan terapung dengan menggunakan baju pelampung warna orange dengan kondisi tertidur lemas di atas sebuah benda warna hitam berbentuk persegi empat.

Kemudian Bukunusa di bawah ke Kampung Buhias untuk mendapatkan perawatan medis di rumah Keluarga Tatoda-Tamaka. “Terima kasih buat saudara-saudara yang sudah membantu saya. Secara materi mungkin saya tidak dapat membalasnya. Namun, saya percaya Tuhan yang akan membalasnya,” pungkasnya.(jackmar tamahari) 

Leave a Reply