Fiksi Disejajarkan Dengan Wahyu Allah ? Sebuah Apologetika Singkat

Pdt. DR Martomo Wahyudianto, S.MG, M.A.C.E, M.Th

Penulis: Pdt. DR Martomo Wahyudianto, S.MG, M.A.C.E, M.Th

 

MENARIK untuk menyimak apa yang dikatakan Rocky Gerung (RG) mengenai Kitab Suci adalah Fiksi, dengan menarik sebuah benang merah dari definisi Fiksi.

Menurut RG Fiksi adalah narasi yang bersifat Imajiner, mengarah ke masa depan hingga para pembaca bisa berimajinasi tentang hal itu.

RG memberikan contoh dalam kitab suci mengatakan tentang keindahan surga, diperuntukan oleh orang yang beramal baik, kita belum mengalami dan merasakan tapi kita bisa membayangkan seperti apa keindahan surga, sehingga atas dasar definisi dan contoh ini maka RG menyimpulkan bahwa Kitab Suci adalah Fiksi.

Mari kita lihat apa definisi Kitab Suci, jelas saya akan melihat dalam perspektif Kekristenan mengenai apa itu Alkitab.

Alkitab adalah Firman Allah, yang ditulis oleh para penulis Alkitab atas Iluminasi Roh Kudus artinya ditulis oleh penulis tetapi dinafaskan oleh Allah ( 2 Timotius 3:16), para penulis menuliskan secara tepat apa yang Allah inginkan mereka tuliskan, dan hasilnya adalah Firman Allah yang suci dan sempurna/wahyu Allah yang sempurna dan suci (Mazmur 12:6, 2 Petrus 1:21).

Lalu apa itu Fiksi ? Fiksi kalimat kuncinya narasi imajinatif. Dalam KBBI Imajinatif adalah menggunakan imajinasi dan bersifat khayalan, menurut Wikipedia Imajinasi adalah daya pikir untuk membayangkan (dalam angan-angan) atau menciptakan gambar dan kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman secara umum.

Apakah Imajinasi sama dengan Fiksi ? Apakah Imajinasi sejajar dengan Wahyu Allah? Imajinasi adalah istilah Psikologi sebagai sebuah proses menggambarkan dan ini dilekatkan pada manusia bukan Allah.
Apakah Allah berimajinasi ? Tentu tidak tetapi Allah berfirman, memberikan Wahyu kepada manusia.

Apakah manusia bisa ber “Firman” ? tentu tidak Firman milik Allah. Apakah Allah membayangkan surga ? Berangan-angan tentang surga ? Tidak karena Allah bersemayam di surga, Allah tidak berimajinasi mengenai surga, Dia pemilik dan pembuat surga.

Imajinasi bisa salah, tetapi Firman Allah tidak mungkin salah. Dua buah hal yang berbeda fiksi dilekatkan pada manusia yang berimajinasi, sedangkan Kitab Suci adalah Firman Allah yang hanya dilekatkan pada Allah. Mensejajarkan fiksi dengan Kitab Suci berarti mensejajarkan manusia dengan Allah.

Mentuhankan manusia dan memanusiakan Tuhan, ini filsafat liberalisme yang mentuhankan rasio yang adalah segala-galanya.

Jadi RG sedang membuat sebuah pola pikir liberalisme, untuk membenarkan bahwa apa yang dipikirkan manusia sama dengan apa yang dipikirkan Allah. (Baca:RG pengajar Filsafat).

Filsafat seharusnya menjadi “budak” teologia (Ancile Teologiae), bukan menjadi alat ukur atau alat bedah Kitab Suci, sejarah dogmatika Kristen mencatat bahwa yang mencoba menghancurkan Ortodoksi bukan diluar ke Kristenan tapi dari dalam ke Kristenan itu sendiri. Sejarah Gereja mencatat ketika filsafat tidak takluk pada otoritas Firman Allah maka filsafat akan menjadi “liar”.

Ketika imajinasi berbeda realitanya pada masa akan datang berarti kitab suci akan dipertanyakan kebenarannya, sedangkan Kitab Suci adalah Wahyu Allah, Firman Allah yang pasti, dan apa yang difirmankan-Nya pasti terjadi.

Yang setuju dengan pemikiran RG bahwa Kitab Suci adalah fiksi berarti sedang mentuhankan pikiran manusia dan memanusiakan pikiran Tuhan. Filsafat tidak bisa dipakai untuk memahami kitab suci, filsafat hanya bisa dipakai sebatas sebagai alat untuk menyampaikan kitab suci.

Salam Damai, Batam 14 April 2018.(***)

Leave a Reply