Framing Media Terhadap Pernyataan Wagub Terkait Vonis Ahok

Framing media menjadi topik hangat terkait isu sosial-politik akhir-akhir ini.

Framing artinya pembingkaian –dari kata frame  yang berarti bingkai.

Framing merupakan bagian dari strategi komunikasi media dan/atau komunikasi jurnalistik. 

Pengertian praktisnya, framing adalah menyusun atau mengemas informasi tentang suatu peristiwa dengan misi pembentukan opini atau menggiring persepsi publik terhadap sebuah peristiwa.

Framing berita merupakan perpanjangan dari teori agenda setting, yaitu pemilihan fakta dalam sebuah peristiwa yang dinilai penting disajikan dan dipikirkan pembaca (publik).

Framing tidak berbohong, tapi ia mencoba membelokkan fakta dengan halus melalui penyeleksian informasi, penonjolan aspek tertentu, pemilihan kata, bunyi, atau gambar, hingga meniadakan informasi yang seharusnya disampaikan.

Framing bertujuan untuk membingkai sebuah informasi agar melahirkan: citra, kesan, makna tertentu yang diinginkan media, atau wacana yang akan ditangkap oleh khalayak.

Secara teoretis, framing adalah cara pandang yang digunakan wartawan atau media dalam menyeleksi isu dan menulis berita. Framing adalah bagaimana wartawan melaporkan sebuah peristiwa berdasarkan sudut pandangnya –ada fakta yang sengaja ditonjolkan, bahkan ada fakta yang dibuang.

Framing media inilah yang membuat Wakil Gubernur Sulut Steven Kandouw menjadi bulan-bulanan di media sosial.

Pernyataan Wagub menjawab pertanyaan wartawan terkait vonis Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Selasa) 09/05) oleh segelintir oknum wartawan di-framing. Akibatnya, maksud dan tujuan dari pernyataan Wagub menjadi bias atau terbelokkan.

Celakanya, maksud Wagub bahwa vonis Ahok bagus sebagai yurisprudensi terhadap kasus lainnya termasuk kasus Ketua FPI Rizieq Sihab, karena framing, opini publik digiring seolah Wagub senang dengan vonis dua tahun terhadap Ahok.

Celakanya lagi, pernyataan Wagub yang telah di-framing tersebut sengaja diunggah di media sosial dan menjadi viral. Dan tak terelakan, orang nomor dua di Sulut menuai bully membabi buta netizen (sebutan pengguna media sosial) yang sangat bersimpati kepada Ahok.

Berkaca dari kasus Wagub di atas, bisa diambil pelajaran, pertama bagi nara sumber untuk berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan untuk konsumsi berita karena ada adanya framing media.

Kedua, bagi wartawan, tetaplah professional dengan selalu mengedepankan etika jurnalistik dalam membuat berita.

Dan ketiga, bagi masyarakat(pembaca), harus mengetahui dalam penyajian berita ada namanya framing, sehingga berita yang ada jangan ditelan mentah-mentah tetapi perlu dicek dan ricek.

Leave a Reply