Gelar Kursus Kader dan Konsolidasi Nasional, GMNI Tegaskan Bukan Underbow PDIP

Cianjur – Puluhan mahasiswa yang tergabung dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang merupakan perwakilan dari beberapa cabang di Indonesia, menggelar kursus kader dan konsolidasi nasional yang diselenggarakan di Cinajur, Jawa Barat.

“Kegiatan ini diselenggarakan pada 20 Agustus hingga 21 Agustus 2016 dan diselenggarakan di Cianjur,” kata Charis Subarcha, Ketua Panitia Kursus Kader dan Konsolidasi Nasional, Rabu (24/08).

Dikatakannya, kegiatan tersebut pun sengaja diselenggarakan karena saat ini Indonesia mengalamai pergeseran kondisi ekonomi Global yang mulai bergeser dari mulai Amerika menuju ke Asia.

Ini, menurutnya, haruslah menjadi satu catatan tersendiri bagi bangsa Indonesia karena fakta yang mungkin tidak disadari oleh sebagian besar rakyat Indonesia bahwa ketika Orde Baru runtuh dan proses reformasi berlangsung, amandemen terhadap sejumlah peraturan perundang-undangan diwarnai oleh semangat liberalisasi, deregulasi, privatisasi dalam banyak hal yang memberikan kesempatan bagi kekuatan asing untuk mendominasi ekonomi Indonesia.

Di Era pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, pemerintah Indonesia membidik investasi dalam bentuk Penanaman Modal Asing (PMA).

Terlebih lagi, pemerintah sudah merilis paket kebijakan ekonomi X berisi tentang revisi Daftar Negatif Investasi (DNI). Dalam daftar ini, sebanyak 35 bidang usaha dilepas sepenuhnya untuk asing atau mayoritas 100 persen, selain itu ada 20 bidang usaha yang baru dibuka ke asing.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bahkan sempat menegaskan, revisi DNI akan lebih menarik investasi asing lebih besar masuk ke Indonesia. BKPM menargetkan dalam lima tahun ke depan, investasi harus mencapai Rp3.500 triliun. Realisasi investasi tahun 2015 adalah Rp. 545 triliun, tahun 2016 ini target investasi adalah Rp. 600 triliun. Pemerintah juga terus menargetkanjumlah investasi masuk ke Indonesia. Tercatat, target 2016 sebesar Rp. 594,8 hingga pada tahun 2019, target investasi sampai 900 triliun.

Persoalan lainnya yakni kebijakan Tax Amnesty langsung di sambut oleh negara – negara Internasional dimana salah satu negara tersebut adalah Singapura yang langsung menurunkan pajak dinegaranya agar investor dari Indonesia tidak keluar, ini menandakan bahwa kedepan capital negara akan melawan capital swasta.

”Berangkat dari beberapa analisa dan teori ilmiah menyikapi perkembangan jaman membuat beberapa cabang GMNI mengadakan acara konsolidasi dan kursus kader diadakan oleh GMNI, dimulai dari konsolidasi GMNI Nusantara yang berada di Surabaya sampai terakhir kursus kilat kader bangsa yang berada di bandung dengan di ikuti 38 DPC GMNI se Indonesia,” terangnya.

Acara tersebut melahirkan beberapa hasil yang harus dilakukan kader GMNI sebagai seorang marhaenis dalam melihat kondisi perubahan ekonomi politik baik Internasional dan Nasional. Acara tersebut juga merupakan satu langkah maju ditengah tidak berjalannya program dari presidium GMNI, hal yang paling terlihat yaitu ketika organisasi gerakan mahasiswa tidak dipimpin oleh mahasiswa yang aktif di perguruan tinggi yang ada di Indonesia.

Menurutnya beberapa rangkaian kegiatan tersebut adalah satu solusi kongkrit dalam menjawab fenomena perkembangan ekonomi politik dunia dan Indonesia, tidak hanya itu saja tapi ini merupakan satu langkah maju dari kemunduran GMNI sebagai organisasi gerakan yang berideologi Marhaenisme.

Karena kader GMNI sebagai kader marhaenis harus mampu menjadi solusi di tengah carut marutnya kondisi negara saat ini baik di bidang ekonomi,politik,budaya,pendidikan dan teknologi. Karena dalam rangkaian acara tersebut kita juga merumuskan program – program perjuangan, metode perjuangan dan pembenahan organisasi GMNI secara Nasional.

Pada konsolidasi tersebut pun menghasilkan program – program GMNI kedepan, metode perjuangan GMNI dalam mewujudkan Sosialisme Indonesia, perubahan struktur baru secara nasional yaitu Presidium Murni.

“Kami pun memutuskan untuk mengembalikan logo GMNI dari logo Banteng paska menjadi underbow PNI tahun 1959 ke Logo semula yaitu Ganesha, sebelum menjadi underbow PNI yaitu tahun 1954- 1958. Kami juga mempertegas bahwa GMNI bukan merpukan underbow dari Partai PDIP,” tegasnya.

Selain itu, beberapa cabang tersebut pun direncanakan akan mendeklarasikan KLB GMNI Front Marhaenis yang akan diadakan di Medan pada tanggal 08 hingga 11 September 2016.(kev)

Leave a Reply