Gelar Media Gathering dan Diskusi Terbuka, BPJS Kesehatan Sosialisasi Kemudahan Perubahan Data Peserta JKN KIS

Manado – Peran media sangat penting untuk menyampaikan perkembangan dalam pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional Kartu Indonesia Sehat (JKN KIS).

“Peran penting media sangat besar untuk menyampaikan perkembangan atau pesan dalam pelaksanaan JKN KIS. Kiranya bisa sampai pada masyarakat dan diterima dengan baik oleh masyarakat,” ungkap Asisten Deputi (Asdep) Perencanaan Keuangan dan Manajemen Risiko (PKMR) BPJS Kesehatan Wilayah Suluttenggomalut, Rudi Siahaan, saat sambutan pada kegiatan Media Gathering dan Diskusi Terbuka JKN KIS, Senin 16 Desember 2019.
Selain itu, dikatakannya, kegiatan tersebut bertujuan untuk mempererat BPJS kesehatan dengan media dan stakeholder lainnya dalam hal ini pemerintah. “Sosialisasi ini dirangkaikan dengan media gathering untuk menjadi wadah sehingga kita bersama-sama melihat JKN KIS dalam frame yang sama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya di bidang layanan kesehatan,” tambahnya.

Hadir dalam kegiatan tersebut jurnalis dari sejumlah media cetak, elektronik dan online di Sulut.
Turut menjadi pembicara, Kacab Manado BPJS Kesehatan, dr Prabowo, Kacab Tondano Donny J Saefuddin, serta Kadis Kesehatan Daerah Provinsi Sulut yang diwakili dr Lisa Pongajow.

Pada pelaksanaan program kali ini, lanjut Siahaan, BPJS Kesehatan akan menyampaikan atau mendorong terus mobile customer service. “Mobile customer service saat ini sementara berada di tengah-tengah masyarakat secara intensif untuk memberikan informasi atau melakukan perubahan data untuk customer yang jauh dari kantor pelayanan,” ungkapnya.

Terkait penyesuaian tarif yang akan berlaku 2020, BPJS Kesehatan melakukan perubahan data dengan praktis melalui Program Praktis.

“Supaya bisa dilakukan secepat dan semudah mungkin sehingga tidak ada isu untuk perubahan kelas layanan,” sambungnya.

Program JKN KIS sendiri di Sulut sudah mencapai UHC. “Masih ada yang belum ter-cover tapi jumlahnya tidak banyak lagi,” katanya.

Sementara, dr Prabowo dalam penyampaiannya mengatakan, tingkat kesadaran membayar iuran masih jauh dari harapan. “Di segmen peserta mandiri, untuk Manado masih 66% tingkat kesadaran, sementara Tondano 61%. Di satu sisi kita didorong untuk menekan defisit yang last resultnya, melakukan penyesuaian iuran,” ujar dr Prabowo.

Terkait tunggakan tersebut, Siahaan mengungkapkan, sampai saat ini masih secara persuasif, antara lain melalui tele collecting, kemudian broadcast melalui SMS maupun pesan WhatsApp.

Leave a Reply