Kementrian Pariwisata RI Gelar FGD Pengembangan Pariwisata di Minahasa

Minahasa – Kementrian Pariwisata Repoblik Indonesia (Kemenpar-RI), melalui Deputi Bidang Pengembangan Infrastruktur dan Ekosistem Pariwisata, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata, bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Minahasa, melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Diabudpar), menggelar Forum Group Disscusion (FGD) Pengembangan Destinasi Pariwisata “Nomadic Tourism”, bertempat di Mercure Convention Hall, Desa Tateli Kecamatan Mandolang, Selasa (05/11) pagi.

Acara ini dibuka Bupati Minahasa Ir Royke Oktavian Roring MSi, yang diwakili Asisten I Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Minahasa DR Wilfort Siangian MA, yang terlebih dahulu diawali laporan kegiatan dan pemaparan destinasi pariwisata di Minahasa, oleh Kepala Disbudpar Minahasa Agustivo Tumundo SE MSi.

Saat membuka kegiatan ini, Siagian menyampaikan apresiasi kepada Kemenpar-RI karnea Minahasa dipilih sebagai tempat pelaksanaan kegiatan ini. “Banyak potensi wisata yang bisa dikembangkan di Minahasa. Program utama Bupati dan Wakil Bupati Minahasa saat ini juga salah satunya fokus pada pengebangan destinasi pariwisata yang baru, untuk memajukan pariwisata di Minahasa,” kata Siangian.

“Namun memang, destinasi wisata di Minahasa masih sangat terbatas, salah satunya dikarenakan sarana penunjang seperti kendaraan ke objek wisata yang masih kurang walaupun infrastruktunya sudah ada. Kami berharap FGD ini dimanfaatkan untuk saling memberi masukan juga terkait permasalahan di Danau Tondano yang bisa dijadikan daya tarik pariwisaa di Minahasa,” tukasnya.

Siagian pun berharap ada perhatian khusus dari Kemenar-RI untuk pengbangan destinasi patiwisata Danau Tondano, memgingat Danau Tondano merupakan perioritas pengamanan nasional, yang dinilai ekosistemnya sudah mulai berkurang dengan pendangkalan yang sudah sangat memprihatinkan.

“Kami berharap ada peran juga dari Kemenpar-RI, sehingga kedepan ada juga kerjasama yang terjalin untuk majukan pariwisata di Minahasa,” pungkasnya.

Selanjutnya, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenpar-RI, Dadang Risky Rahman, dalam sambutan dan arahannya mengatakan, pengembangan destinasi pariwisata saat ini adalah salah satu tujuan utama untuk mendatangkan pemasukan bagi kas daerah dan pemasukan bagi masyarakat setempat. Menurut Dadang, Minahasa telah memiliki modal untuk kesana, sebab Minahasa saat ini berada pada posisi ketiga teratas di Sulawesi Utara, yang menjadi daerah tujuan wisata, baik turis mancanegara maupun turis lokal, yang mencapai 74.700 kunjungan di tahun 2017 lalu.

“Kinerja Dinas Pariwisata diukur dari jumlah kunjungan wisata mancanagara maupun domestik. Multiplayer efeknya untuk semua masyarakat, semua masyarakat diunungkan, termasuk pemerintah juga,” kata Dadang.

Selanjutnya, Dadang menyebutkan, pengembangan pariwisata tidak terbatas pada batas wilayah administratif. Sebab menurutnya, sekali kunjungan wisatawan di suatu tempat, seperti contoh di Sulawesi Utara, pasti tak hanya di Manado saja yang memiliki Bunaken, tapi pasti ke daerah lain di Sulut, termasuk didalamnya Minahasa.

“Yang terpenting adalah, atraksi atau destinasi apa yang akan kita jual kepada wisatawan, yang menjadi daya tarik daerah kita bagi mereka untuk berkunjung ke daerah kita. Belajarlah dari beberapa tempat yang lebih maju pariwisatanya dan kita bisa terapkan di daerah kita. Selain itu, salah satu yang kita butuhkan untuk mendatangkan wisatawan adalah dengan mempromosikan pariwisata di daerah kita, karena informasi destinasi pariwisata suatu daerah itu sangat penting,” ujarnya.

Dikatakan Dadang, untuk mengembangkan patiwisata disuatu daerah diperlukan juga adanya peran dari swasta atau dalam hal ini investor. Maka dari itu, dikatalkan Dadang, pemerintah setempat harus permudah bagi investor untuk berinvestasi di daerah kita.

“Kami membawa investor masuk ke Minahasa. Asalkan jangan persulit proses perijinannya, investor itu jangam dipersulit melainkan dipermudah agar supaya dia mau datang berinvestasi di daerah kita. Sebab, saya melihat Minahasa memiliki banyak potensi pariwisata yang baik, hanya saja perlu mendapat perhatian khusus untuk dikembangkan,” ujarnya sembari berharap Minahasa menjadi yang terbaik di Nomedic Tourism ini.

Juga tampil sebagai pembicara dalam FGD ini, Tenaga Ahli Kemenpar Bidang Nomadic Tourism Made Ryan Nugraha Putra, Kepala Disbudpar Minahasa Agustifo Tumundo dan mewakili Kepala Disbudpar Sulut, dengan Moderator acara Tino Gobels, yang merupakan Staf Ahli Gubernur Sulut Bidang Pariwisata, serta turut dihadiri perwakilan Kepala Dinas Pariwisata sejumlah Kabupaten/ Kota di Sulut, Staf Khusus Bupati Minahasa Bidang Pariwisata Melly Pungus, Kepala SKPD Minahasa terkait, Camat, Hukum Tua Desa Berprestasi dan Insan Pers Biro Minahasa.(fernando lumanauw)

Leave a Reply