Kerukunan Tanpa Pamrih di Sulut

HARI besar keagamaan menjadi momentum bagi kerukunan dan toleransi umat beragama di Sulawesi Utara (Sulut). Seperti peringatan Natal bagi Umat Kristiani pada setiap tahunnya yang ikut berpartisipasinya warga Muslim dalam menjaga keamanan dan ketertiban, begitu pula dalam peringatan Hari Raya Idul Fitri 1434 H pada tahun 2013 ini.


Warna kerukunan begitu kental di Nyiur Melambai. Wajah berseri dan tangis haru melihat antusias berbagai kalangan dan eleman masyarakat dalam memupuk kerukunan umat beragama yang sudah terjalin begitu lamanya di Sulut tak pernah tercoreng sedikitpun.


Sehingga tak heran Sulut bisa dikatakan “Sorganya” kerukunan umat beragama di Indonesia. Bahkan potret kerukunan dengan saling “memapah” dan mendukung antar semua elemen dan golongan masyarakat di negeri yang dipimpin Gubernur Sulut, Sinyo Harry Sarundajang (SHS) dan Wakil Gubernur Jouhari Kansil ini, merupakan contoh terbaik dari carut marutnya toleransi di Indonesia.


Sebagai contoh terbaik, organisasi adat Brigade Manguni Indonesia (BMI) yang diisi oleh putra dan putri terbaik Sulut ikut ambil bagian dalam menjaga toleransi. Lihat saja, ketika Front Pembela Islam (FPI) yang getol perlihatkan tindakan anarkis dalam beberapa tahun ini, menjadi perlawanan tersendiri bagi BMI untuk menolak kehadiran FPI di tanah Minahasa.


“Saya Tonaas BMI Sulut, mau menjadi bagian dari FPI bahkan menjadi pimpinan jika FPI benar-benar merupakan organisasi yang bisa mengayomi semua unsur dan agama di Indonesia. Kalau anarkis, saya yang akan maju di depan,” ungkap Tonaas BMI Sulut, Pdt Hanny Pantouw STh.


Demikian pula penolakan yang sama dikatakan Tonaas BMI Manado, Jonny Moning Mamengko. Menurut Moning, FPI harus menjadi harga mati untuk ditolak kehadirannya di Sulut, karena bisa merusak kerukunan yang sudah terjalin begitu lamanya di daerah kita.


“FPI tidak bisa kita biarkan, dan saya paling depan untuk mengusir mereka,” tukas Moning sembari bersyukur pada malam takbiran dalam menyambut Idul Fitri 2013 di Sulut, BMI Manado mendapat tempat tersendiri bagi umat muslim untuk bersama dalam pawai Takbiran di Kota Manado.


Tokoh pemuda muslim, Ivan Loho mengungkapkan bahwa dirinya begitu bangga hidup di Sulut. “Saya begitu mencintai Kota Manado dan Sulut pada umumnya, karena jelas kita semua umat beragama merupakan sudara yang saling mendukung satu dengan yang lainnya,” ucap Caleg Demokrat di Manado Dapil Tuminting dan Bunaken ini.


Begitu halnya dikatakan Chandra Modeong, tak lain tokoh pemuda Muslim di Bolaang Mongondow (Bolmong), tak lain Ketua Pemuda Ansor Bolmong ini. Modeong mengucapkan banyak terimakasih kepada warga Sulut, teristimewa warga Kristiani yang turut bersama merayakan perayaan Idul Fitri tahun 2013 ini. “Ini bukti kerukunan tanpa pamrih yang terus tercipta di  Sulut. Saya berterimakasih untuk semua warga Sulut yang bersama telah menjaga kerukunan dan toleransi,” kata Ketua Hanura Kabupaten Boltim ini.

  

Tak ketinggalan, Ketua Ormas Warga Jaya Indonesia (WJI) DKI Jakarta Pusat, Denny Korompis yang kebetulan sedang persiapkan bagi pembentukan kepengurusan WJI di  Sulut menyampaikan pujiannya bagi warga Nyiur Melambai.


“Saya bangga dengan Toleransi antar umat beragama di Sulut, Di daerah lainnya, warga minoritas selalu menjadi korban dari isu Suku, Agama dan Ras (SARA), tetapi kita di Sulut menjadi satu kesatuan untuk saling berbagi dan melindungi. Tak ada perbedaan, tetapi menjadi satu kesatuan untuk membangun Sulut. Tak ada warga kelas dua di Sulut, melainkan potret kehidupan berbangsa dalam bingkai NKRI begitu nyata di daerah kita,” jelas Korompis sembari menyambung dirinya melihat secara langsung bagaimana warga Sulut saling berbaur untuk menjaga tempat-tempat ibadah dari umat Muslim yang sedang merayakan Idul Fitri. (***)

Leave a Reply