Korban Kasus Trafficking Dapat Pendampingan P2TP2A Sulut, Mieke Pangkong Minta Polisi Ungkap Dalang

Manado – Empat perempuan cantik yang berhasil digagalkan polisi saat akan diterbangkan ke Sorong, Papua Barat dari Bandara Sam Ratulangi Manado oleh pelaku trafficking pada Sabtu (18/01/2020) subuh, kini berada di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Sulawesi Utara.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Daerah Provinsi Sulut Mieke Pangkong sangat menyayangkan kejadian ini, sekaligus memberikan apresiasi kepada pihak kepolisian yang cepat menggagalkan pemberangkatan empat wanita asal Manado itu ke Papua Barat.

Kadis PPPA Mieke Pangkong menilai, kejadian dengan modus seperti ini sudah bisa dikategorikan sebagai tindakan perdagangan orang (trafficking).

“Dari proses perekrutan sampai kepada proses keberangkatan, boleh dikategorikan sebagai tindak perdagangan orang,” tandas Mieke.

Untuk menelusuri kejadian itu, pihaknya akan memanggil pihak keluarga dari ke-4 perempuan itu, apakah ada keterlibatan keluarga disana.

“Bila terlibat, kita bisa pidanakan juga anggota keluarga mereka itu,” tegas Mieke.

Demikian halnya dengan pelaku atau dalang sesungguhnya dari kejadian itu, kata Mieke harus dicari dan diproses hukum. Mengingat kasus trafficking ini sudah melanggar hak asasi manusia.

“Kami mengharapkan sinergitas Polresta Manado, Dinas PPPA dan P2TP2A Sulut untuk bisa mengungkap dalang kejadian itu,” tegas Mieke.

Kadis PPPA inipun mengimbau agar seluruh masyarakat Sulut tidak terpukau dengan berbagai tawaran menggiurkan untuk suatu pekerjaan dengan mendapatkan gaji sangat besar.

“Mereka yang lemah ekonomi dan juga belum ada pekerjaan, sering menjadi sasaran. Makanya kami minta jangan mudah mengiyakan tawaran oknum-oknum yang berusaha melakukan trafficking,” kata Mieke.

Ke-4 perempuan yang saat ini ditampung di P2TP2A didampingi dan diedukasi oleh konselor dan juga tokoh agama. Mereka akan diberikan pencerahan agar tidak melakukan hal yang sama di kemudian hari.

Keempat korban itu ialah RT (28), IS (19), AD (16), dan DT (16). RT adalah seorang ibu rumah tangga yang sebelumnya pernah bekerja sebagai sopir ojek daring.

IS adalah seorang ibu muda yang sudah bercerai. Sementara AD, dan DT adalah remaja yang sudah putus sekolah sejak SMP dan baru akan mulai bekerja ke Papua. Mereka berempat berdomisili di Kota Manado.

Keempatnya bakal menjalani pemeriksaan dari Polresta Manado dan juga akan mendapatkan pembinaan dari Dinas PPPA Daerah Sulut.

Ke-4 korban ini mengaku menyesal dengan apa yang sudah terjadi, bahkan mereka bersyukur tidak jadi diterbangkan ke Papua Barat untuk bekerja di salah satu tempat hiburan malam.

“Bersyukur juga bisa sampai di P2TP2A. Kalau kami sudah di Papua, belum tahu nasib kami seperti apa,” ujar ke-4 korban.

Ke-4 mengaku baru saling mengenal saat sudah di mobil menuju ke Bandara Sam Ratulangi Manado. Rencananya, Sabtu (18/1) mereka akan diberangkatkan dengan pesawat pada jadwal penerbangan pertama menuju Sorong.

“Setelah tiba di Sorong, kami bakal lanjut lagi ke Bintuni menggunakan kapal laut. Kurang lebih satu hari lagi baru tiba di sana,” jelas ke-4 korban.

Mereka mengaku tertarik dengan iming – iming gaji sebesar Rp4 juta per bulan hanya menemani pengunjung, yang ditawarkan oleh mucikari.

“Tidak dibilang nama tempatnya, tapi cuma dibilang kalau di sana perhari bisa dapat Rp1 juta untuk tipsnya. Terus kami rencananya dikontrak tiga sampai empat bulan. Makanya kami tertarik,” jelas mereka.

Dari pengakuan mereka terungkap bahwa sang muncikari sudah memberikan uang muka Rp2,5 juta kepada salah satu korban. Korban dipaksa untuk mengikuti kemauan muncikari.

Tak lama kemudian, IS, AD, dan DT diinapkan selama dua hari di rumah salah satu keluarga muncikari di sekitar Manado Utara. Sedangkan RT baru bergabung saat hendak ke bandara.

“Pokoknya dari proses rekrutan ada dua orang yang terlibat. Kemudian saat diinapkan ada beberapa lagi yang terlibat,” tutur mereka.

Dari rumah itu, mereka langsung menuju ke bandara untuk diberangkatkan ke Sorong, Papua Barat . Saat kendaraan Avanza yang mereka tumpangi baru tiba di bandara, aparat kepolisian dari Polresta Manado langsung menahan mereka.

“Baru buka satu pintu mobil, eh polisi langsung tahan. Dan telepon seluler kami langsung diminta juga sama polisi. Proses penanahannya cepat sekali, kami seperti bengong-bengong begitu,” cerita mereka.

Leave a Reply