Korupsi Pemecah Ombak, Kejati Kembali Giring Tiga Tersangka ke Kejari Airmadidi


Para tersangka saat digiring di Mobil Tahanan Kejati Sulut

Manado,Cybersulutnews- Komitmen Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Utara (Sulut), mempercepat proses pemberkasan korupsi pemecah ombak di Desa Likupang, Minahasa Utara (Minut) ke Pengadilan bukanlah Isapan jempol

Keseriusan tersebut dibuktikan, setelah berkas tiga tersangka RT alias Rosa eks Kepala BPBD selaku kuasa pengguna anggaran (KPA), SHS alias Steven selaku pejabat pembuat komitmen (PPK) dan RM alias Robby selaku Direktur PT Manguni Makasiouw Minahasa (MMM) pelaksana pekerjaan, telah masuk dalam proses tahap II atau penyerahan tersangka dan barang bukti ke pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Air Madidi, Kamis (25/01), sekira pukul 12.00 WITA.

Tiga tersangka tersebut dikawal langsung oleh Jaksa Erwin Purba SH MH ke daerah Minut menggunakan Mobil Tahanan Kejati Sulut.

Kepala seksi penerangan hukum (Kasipenkum) Yonni E Malaka, ketika diwawancarai awak media menerangkan penyerahan tersangka dan barang bukti dilakukan setelah JPU menyatakan perkara tersebut telah lengkap (terpenuhi syarat formil dan materil) dan di P-21.

“Kita sudah melakukan proses tahap II mudah-mudahan sesuai janji pak Kejati, berkasnya akan secepatnya juga dilimpahkan ke Pengadilan, tandasnya.

Lebih lanjut dirinya menerangkan JPU pada Kejari Air Madidi yang diketuai Slamet Riyanto, akan melakukan penahanan terhadap tiga tersangka tersebut, yang sebelumnya telah ditahan oleh Penyidik Kejati Sulut pada tahap Penyidikan.

“Penahanan dilakukan selama 20 hari di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Manado sejak tanggal 25 Januari 2018 sampai 13 Februari 2018,” pungkasnya.

Sebelumnya, pada 16 Januari 2018 lalu, Kepala Kejati Sulut Mangihut Sinaga ketika diwawancarai awak media sudah mengungkapan, bahwa selambat-lambatnya akhir Januari 2018 kasus dugaan korupsi ini sudah berproses di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Manado.

“Yang pasti, satu sampai dua hari ini sudah tahap II. Setelah tahap dua, paling lambat akhir bulan ini kita limpahkan ke pengadilan untuk dilakukan penuntutan di persidangan,” terang Sinaga belum lama ini.

Sekadar diketahui, penyidik Kejati Sulut juga telah melakukan pemeriksaan terhadap Bupati Minut Vonnie Anneke Panambunan dan Alexander Panambunan sebagai saksi. Keduanya juga dari informasi yang berhasil diterima, diduga telah menikmati bersama uang korupsi ini, hingga penyidik Kejati melakukan pemeriksaan.

Dalam perkara ini para tersangka menyebabkan Negara dirugikan sebesar Rp8,8 milyar dari pagu anggara 15 M sesuai hasil perhitungan kerugian Negara dari BPKP Perwakilan Sulut.

Para tersangka diduga telah menyalahgunakan wewenang dan melawan hukum dalam pekerjaan Proyek Pemecah Ombak di Desa Likupang pada BPBD Minut 2016.

Alhasil pada ketiga tersangka dikenakan Pasal 2 ayat (1), Pasal 3 Jo Pasal 18 Undang – undang Nomor 31 Tahun 1999 Jo Undang – Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (Marend)

Leave a Reply