PKBM Bukit Zaitun Tumaluntung, Tuntaskan Pendidikan Melalui Kesetaraan

Penulis: Christian Wahyu Lasut MTh MPd, (Koodinator Keaksaraan Kesetaraan PKBM Bukit Zaitun Tumaluntung)

Salah satu cara memutus matarantai kemiskinan adalah dengan pendidikan. Belajar seumur hidup rasanya sangat relevan. Mengapa tidak? Bahwa sejatinya pendidikan menjadi sebuah kebutuhan di era teknologi yang terus berkembang. Kepedulian pemerintah, khususnya pendidikan, terlihat dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan sehingga kualitas pendidikan menjadi lebih baik lagi.

Pasal 1 Butir 1 Undang-undang nomor 20 tahun 2003, tentang sistem Pendidikan Nasional menyatakan, pendidikan adalah usaha sadar dan berencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, Bangsa dan Negara.

Secara formal, pendidikan terpenuhi dengan ditatanya landasan yuridis dan kurikulum yang ada. Nah, bagaimana dengan anak yang putus sekolah? Atau warga belajar/masyarakat yang hendak memiliki peningkatan kualitas, akan tetapi umur mereka yang sudah tidak termasuk usia sekolah? Sering kita mendengar tentang kesetaraan Paket A, B, C atau Pendidikan Nonformal. Tak banyak yang tahu tentang keberadaan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), mulai dari tujuan dan fungsi kehadiran PKBM.

Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.

Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.

Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional.

Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja. Pendidikan kesetaraan meliputi Paket A, Paket B dan Paket C, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik seperti, PKBM, lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, majelis taklim, sanggar, dan lain sebagainya, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.

PKBM adalah lembaga yang dibentuk oleh masyarakat untuk masyarakat yang bergerak dalam bidang pendidikan. PKBM ini masih berada di bawah pengawasan dan bimbingan dari Dinas Pendidikan Nasional. PKBM ini bisa berupa tingkat desa ataupun kecamatan. untuk mendirikan PKBM bisa dari unsur apapun oleh siapapun yang tentunya telah memenuhi syarat-syarat kelembagaan antara lain; 1. Akta Notaris, 2. NPWP, 3. Susunan Badan pengurus, 4. Sekretariat, 5. Izin Operasional dari Dinas Pendidikan Kabupaten/ Kota (menurut id.wikipedia.org diakses 25/02/20).

Dalam UUD 1945, telah diatur secara konstitusi, dapat dilihat dalam Pasal 28 C (1) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia (2) Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negara. Pasal 27 ayat (1) Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi Kemanusiaan.

Pasal 31 ayat (1) Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Dalam Pasal 13 ayat (1) Jalur Pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS. PKBM merupakan wadah dalam memfasilitasi masyarakat untuk terciptanya pembelajaran masyarakat yang secara mandiri serta bekelanjutan.

Menurut Ketua PKBM Bukit Zaitu Tumaluntung Sandra Sarah Item ST, PKBM adalah wadah yang juga sebagai fasilitator dalam mempertemukan kebutuhan dengan sumber daya belajar yang dimiliki oleh masyarakat. PKBM merupakan tempat dimana kegiatan belajar masyarakat dalam rangka peningkatan dan pemenuhan pengetahuan, keterampilan/keahlian, bakatnya yang dimiliki kemudian dikelola selannjutnya diselenggarakan oleh masyarakat itu sendiri.

Charismanto Mawey SPd sebagai Asesor dan Sekretaris PKBM Bukit Zaitun Tumaluntung berpendapat, PKBM yang adalah institusi pendidikan bagi semua warga masyarakat yang hendak belajar agar lebih mandiri sehingga terpenuhinya kebutuhan hidupnya, meningkatnya pendapatan melalui aktivitas pembelajaran. Dalam uraian tentang keberadaan PKBM terlihat jelas betapa pentingnya kehadiran PKBM termaksud.

PKBM Bukit Zaitun yang terletak di Desa Tumaluntung, Kecamatan Kauditan, Minahasa Utara, memberikan hak dan fasilitas yang sama bagi masyarakat umum untuk mendapatkan pendidikan kesetaraan yang berguna bagi terciptanya peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM), serta peluang lapangan pekerjaan, juga menjadi peluang dalam mempromosikan budaya dan kearifan local dan lain-lain, menurut Bendahara PKBM Bukit Zaitun Tumaluntung, Femmy Rumagit SPd.

Tuntaskan Pendidikan Melalui Kesetaraan Paket A, B, C PKBM Bukit Zaitun Tumaluntung merupakan keterpanggilan dalam pelayanan untuk melayani kebutuhan masyarakat dalam bidang pendidikan.(***)

Leave a Reply