Predator Anak Ada di Manado

Catatan : Vebry Deandra

WASPADA..waspada ! Ternyata penculikan anak terus terjadi di Kota Manado dan kota atau kabupaten lainnya di Sulawesi Utara dengan berbagai motifnya.

Terkini terjadi terhadap seorang anak perempuan berumur 6 tahun di SD Manibang, Kecamatan Malalayang yang diculik pada Senin (26/11), sekira pukul 10.00 Wita, oleh orang tak dikenal (tersangka, red) Jemmy alias JR (39), warga Wanea, Lingkungan Tiga, yang kesehariannya berprofesi sebagai tukang ojek.

Pelak saja kejadian penculikan itu langsung viral di dunia jagat sosial media, hingga kemudian pelaku berhasil ditangkap Polisi Pamong Praja (Pol PP) yang mencurigai gelagat pria yang membawa seorang anak perempuan di Pasar Tondano sesuai ciri-ciri yang diinformasikan lewat sosial media, hingga harus diringkusnya sebelum bocah tersebut diperlakukan tak senonoh lelaki bejat dan tak berprikemanusiaan itu.

Menyimak dari aksi dan perlakuan pelaku, saya melihat disini bukan karena motif untuk melakukan pemerasan yakni penculikan dengan meminta sejumlah uang.

Namun pelaku adalah Predator anak atau pelaku adalah orang yang melakukan pelecehan seksual pada anak dibawah umur, yang pelakunya sering disebut dengan sebutan pedofilia. Sangat beruntung bagi bocah polos itu berhasil secepatnya ditemukan sebelum pelaku melakukan perbuatannya tersebut.

Saya atau pun masyarakat sepakat pelaku pedofilia ini perbuatan yang sangat menakutkan. Pedofilia sendiri artinya adalah kondisi orang yang mempunyai ketertarikan atau hasrat seksual terhadap anak-anak yang belum memasuki masa remaja. Istilah ini seringkali ditujukan kepada orang-orang dewasa yang memiliki kondisi ini sehingga tega melakukan pelecehan seksual atau memaksa menyetubuhi anak bahkan selain menyakiti secara seksual, pelaku biasanya tega untuk membunuh setelah hasrat seksualnya terpenuhi.

Sungguh dibutuhkan peran serta semua pihak untuk terus mengawasi lingkungan dimana anak-anak kita berada. Sekolah sudah sepatutnya membuat aturan yang ketat, serta orang tua harus mengikutinya, yakni setiap anak sewaktu pulang sekolah harus dijemput oleh orang tua atau keluarga yang dikenal.

Kita harus mengenal lingkungan rumah kita dimana anak-anak sering bermain, sebab pelaku-pelaku pedofilia ini bisa dimana saja mereka berada, sehingga pengawasan bersama harus dilakukan semua elemen masyarakat, terutama orang tua terhadap anaknya sendiri.

Kejadian di SD Manibang, Malalayang harus menjadi tanda awas bagi kita bersama, sebab para predator anak ini harus terus kita waspadai sebelum adanya korban lainnya.

Lihat saja pelaku dalam pengakuannya sudah melakukan penculikan anak sebanyak 6 kali dengan motif serupa, sungguh suatu kengerian. Bagaimana kalau ternyata orang dengan penyimpangan seksual ini masih ada di Kota Manado atau kota dan kabupaten lainnya di Nyiur Melambai atau di lingkungan tempat tinggal kita ?

Ini beberapa data penculikan anak dengan berbagai motifnya di sepanjang tahun 2017 :

KEJADIAN BULAN AGUSTUS 2017 :

RT alias Pet (27) warga Bolmong yang menjadi pelaku penculikan terhadap KW, (7), siswi Sekolah Daerah (SD) di Kolongan, Tomohon, terancam kurungan penjara 20 tahun.

Kasat Reskrim Polres Tomohon, AKP Frely Sumampouw mengatakan, tersangka kena pasal perlindungan anak, penculikan, penganiayaan dan mencoba melakukan pemerkosaan, dengan ancaman hukuman 15-20 tahun.

“Tersangka terungkap berkat kerjasama tim dan anggota lainnya. Saya langsung share nomor polisi pelaku ke tim resmob polda dan semua polres yang ada di Sulut. Kemudian tim dari polres Minahasa mengamankan pelaku saat perjalanan ke Manado,” kata Sumampouw, pada Selasa (15/7/2017).

Dikatakan Sumampouw, korban lolos keluar dari pintu mobil di daerah Talete. Kemudian warga datang dan menanyakan kejadian kepada korban.

Pria yang bekerja sebagai sopir ini melihat korban berjalan dipinggir jalan. Pelaku langsung menyeret KW ke dalam mobil. Korban pun dibawa lari ke arah Manado.

“Saya lihat, dia sendirian, kemudian saya angkat dia dan masukkan ke dalam mobil,” kata dia dihadapan polisi.

Pria asal Bolmong ini mengaku tergiur dengan kemolekan tubuh gadis kecil tersebut.

“Tidak tahu mengapa terpikir dalam pikiran. Saya menyesal melakukan hal seperti ini,” kata pelaku.

BULAN MARET 2017 :

Patut menjadi perhatian masyarakat. Kasus dugaan penculikan anak baru-baru ini terjadi di Ibu Kota Provinsi Sulut, Manado. Sebelumnya, kasus ini dilaporkan ke Mapolsek Malalayang. Namun, Rabu kemarin sudah dilimpahkan ke Polresta Manado.

Diketahui, J bocah 10 tahun, asal Kelurahan Kleak, Lingkungan VI, Kecamatan Malalayang, menjadi korban dugaan penculikan oleh tiga pelaku bertopeng menggunakan Avanza hitam. Peristiwa ini terjadi ketika J baru pulang sekolah di SD Negeri 36 Manado sekira pukul 14.30 Wita, Senin lalu. Beruntung, saat ini korban sudah kembali bersama dengan keluarganya setelah para penculik mengembalikannya.

Menurut cerita J, siang itu dirinya baru pulang sekolah. “Di depan sekolah saya lihat ada laki-laki pakai topeng memanggil saya dari dalam mobil Avanza hitam,” katanya.

BULAN APRIL 2027 :

Yamin Wahab (54), warga Kelurahan Tuminting, Lingkungan Empat, Tuminting, dengan tergesa-gesa mendatangi kantor Mapolresta Manado, Rabu (26/4) sekitar pukul 18.00 Wita.
Ia datang melaporkan dugaan kasus penculikan yang menimpa anaknya yakni, Nuraini Wahab (24).

“Dia keluar dari rumah pada hari Kamis (20/4) pak, katanya ingin online di Telkom,” ujar pria yang bekerja sebagai Imam Masjid itu.

BULAN MARET 2017

Adanya peristiwa kasus percobaan penculikan balita 3 tahun, di perkebunan Kelurahan Matali, Kecamatan Kotamobagu Timur (Kotim), Senin (20/03/2017) pukul 15.00 WITA, terus diseriusi dan didalami pihak Kepolisian Resort Bolaang Mongondow (Polres Bolmong). Hal itu sebagaimana dikatakan Kapolres Bolmong, AKBP Faisol Wahyudi SIK.

Waspadalah…waspadalah ! Kejahatan terjadi bukan hanya karena niat pelaku, melainkan karena KESEMPATAN… (vebry deandra/berbagai sumber)

Leave a Reply