Remaja Asal Masarang Tewas Gantung Diri, Broken Home Diduga Jadi Latar Belakang

Minahasa – Peristiwa menggemparkan terjadi di Kelurahan Masarang, Lingkungan III, Kecamatan Tondano Barat, Sabtu (15/02) pagi, sekitar pukul 06.00 WITA. Pasalnya, pagi itu di Kelurahan tersebut, tepatnya di perkebunan Malenter, ditemukan jasad remaja, teridentifikasi lelaki Juvan Tulus (16), warga setempat, diduga tewas bunuh diri pada seutas tali, alias gantung diri.

Informasi diperoleh Cybersulutnews.co.id, penemuan mayat remaja putus sekolah saat masih kelas I SMA ini, berawal saat seorang saksi Yuristi Tololiu (26), warga yang sama dengan korban, hendak menuju ke kebunnya untuk memindahkan hewan Sapi miliknya.

“Waktu hendak memindahkan Sapi, saya melihat seperti ada orang yang memanggil saya. Kemudian, saya melihat korban tergantung pada seutas tali, kakinya sudah membiru dan posisi kedua kakinya terlipat. Saya lalu memberitahukan hal ini kepada ayah korban dan warga masyarakat sekitar,” terang saksi.

Warga lalu berbondong-bondong mendatangi tempat kejadian perkara dan menurunkan serta mengangkat korban, diantaranya ayah korban Jenly Tulus (42), Ando Sumalu, Rommy Mandang dan Denny Rumondor.

Dugaan sementara, remaja putus sekolah ini tewas gantung diri karena dilatar belakangi masalah keluarga, atau broken home. Sebab, menurut keterangan Lurah setempat, Daniel D Wagey SSos, kedua orang tua korban sudah pisah ranjang sejak dua tahun belakangan ini.

“Sebagai Lurah, saya pernah mengurus masalah keluarga ini. Orang tua korban bertengkar dan sudah pisah ranjang, tapi kami sempat mempertemukan untuk berdamai. Informasinya, kelurarga ini sudah broken home sejak menikah, sering masalah, pisah ranjang, rujuk lagi dan kemudian pisah ranjang lagi,” terang Lurah.

Bahkan informasi lain diperoleh, sebelum kejadian, korban sudah sempat beberapa kali membuat status di media sosial Facebook dengan foto percobaan bunuh diri. Bahakan pula, sekitar dua tahun yang lalu, korban pernah ditemukan oleh kedua orang tuanya (Keluarga Tulus-Palar), mencoba bunuh diri dengan menggunakan tali.

Ayah korban mengatakan, dirinya berprofesi sebagai sopir, dan anaknya yang menjadi korban ini sering ikut dengannya sebagai sopir juga. Menurutnya, anaknya ini malam sebelum kejadian gantung diri, sempat pamitan hendak ke rumah pamannya Melky Tulus.

“Sekitar Jam 22.00 WITA tadi malam, anak saya keluar rumah, katanya mau ke rumah kakak saya. Sampai saya tertidur, anak saya ini tidak pulang-pulang. Pagi hari sementara ibadah pagi HUT anak saya yang kedua, pukul 06.00 WITA, ada warga yang datang memberitahukan bahwa anak saya sudah gantung diri,” terangnya.

“Saya dengan istri saya Rosita Palar memang sudah lama pisah ranjang, sudah sekitar dua tahun. Pernah saya melapor di Polsek Tondano sekitar dua tahun lalu masalah keluarga, isteri saya curiga ada hubungan dengan orang lain,” terang ayah korban lagi.

Kapolres Minahasa AKBP Denny I Situmorang SIK, melalui Kasubag Humas Polres Minahasa AKP Ferdy Pelengkahu, membenarkan adanya kejadian tersebut. Dugaan sementara menurutnya, korban meninggal karena bunuh diri, yang diduga dilatar belakangi karena depresi tidak terima kedua orang tuanya pisah ranjang, dan ibunya sudah ada hubungan dengan lelaki lain.

“Benar ada kejadian bunuh diri. Tindakan Polres Minahasa yakni mendatangi TKP bersama Identifikasi Polres Minahasa dan korban tidak ditemukan tanda tanda kekerasan. Kami lalu mencari keterangan saksi-saksi dan membuat berita acara penolakan outopsi, karena keluarga menolak di outopsi,” pungkasnya.(fernando lumanauw)

Leave a Reply