Tokoh Agama Dan Masyarakat Sulut Bersatu Jaga Kerukunan Jelang Pilpres 2019

MANADO,cybersulutnews – Jelang pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Wapres) pada tahun 2019, pemberitaan hoax serta isu suku, agama, ras, dan antargolongan (Sara) “kental” terdengar.

Kesatuan seluruh golongan agama diuji dengan kondisi ini.
Kota Manado yang di kenal slogan kota toleransi beragama nomor satu di Indonesia menahan isu tersebut masuk di daerah Nyiur Melambai.

Rabu (24/10/2018), kemarin. Para tokoh-tokoh-tokoh agama dan masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) menggelar silahturahmi antar umat beragama di rumah makan Manado Restaurant Kawasan Bahu Mall. Acara tersebut digagas langsung oleh Laskar Manguni Indonesia (LMI) bersama Mabes Polri.

Dalam kegiatan itu masing-masing tokoh saling memberikan masukan tentang bagaimana menjaga kesatuan dan kerukunan umat beragama.

Gubernur Sulut Olly Dondokambey yang diwakili Kepala Kesbangpol Mecky Onibala mengharapkan slogan Torang Samua Basudara dan Torang Samua Ciptaan Tuhan tetap dijaga dan dirawat.

“Tidak ada yang bakalae (berkelahi) disini dan tidak ada yang tidak aman disini.
Datang di Sulut karena Sulut milik kita bersama, dan kita rawat dan jaga daerah ini. Marilah kita bekerjasama demi keamanan Sulut kedepan,” jelas Ketua Pelayanan Pria Pantekosta Sulut ini.

Sementara itu ketua umum (Ketum) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulut, KH Abdul Wahab Abdul Gofur mengatakan pertemuan ini sangat positif, untuk menjelaskan kepada semua masyarakat keadaan dan situasi di Sulut memang dari dulu sampai sekarang hidup rukun dan damai.

“Cuma ada orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang ingin merusak semua itu. Pertemuan silahturahmi ini jika kita bina dan bangun terus, maka cobaan itu dapat dihalau dengan baik, tanpa ada satu kerusuhan ataupun terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan,” jelasnya.

Menurutnya koordinasi yang baik semua pihak antara Polri–TNI, pemerintah, masyarakat, tokoh–tokoh agama dan para ulama yang kita harus jaga terus supaya sulawesi utara tetap aman, damai dan sejahtera.

Disisi lain Tonaas Wangko LMI Pdt. Hanny Pantouw menjelaskan kegiatan seperti ini harus dibuat baku oleh pemerintah karena hasilnya sangat baik dan positif.

“Tujuaannya, ketika ada kejadian jangan sampai tokoh masyarakat, tokoh agama, ataupun tokoh adat, ibaratnya hanya dijadikan pemadam kebakaran. Setiap ada persoalan, mereka selalu di panggil. Namun disaat tenang mereka ditinggalkan begitu saja,” ujar Pantouw.

Menurutnya kejadian yang lalu terjadi di Kota Manado kalau dilihat dari segi positif, membangunkan kita semua mulai dari pihak TNI -POLRI, Pemerintah maupun masyarakat agar jangan sampai terjadi isu yang akan dibuat menjadi isu agama.

“Kepada awak media juga agar tidak menyebar hoax, seperti kejadian lalu ada salah satu media online menyebutkan LMI lah yang menjadi koordinator, ini harus kita jaga bersama kebenaran dari suatu informasi. Jika bisa seperti itu maka kita bisa mengurangi beban pemerintah,dan membantu TNI POLRI supaya mereka lebih fokus hal – hal yang lebih prinsip,” pungkas Pantouw.

Diketahui para tokoh agama yang hadir dalam kegiatan ini Ketua majelis Tinggi Agama Khonghucu Sulut Sofyan Jimmy Yosadi, Ketua Komisi Remaja Sinode di Sulut Gorontalo dan Sulteng Temmy Assa, Wakil Ketua PWNU Sulut Ulyas Taha, Buddha Tridarma Ferry Onibala.
Dan para tokoh masyarakat DPD Ganki Sulut Julianto Philip,Ketum OKLBI Berty Lumempouw, serta Dirintelkam Polda Sulut Budhy Herwanto, serta dari Markas Besar (Mabes) Polri Kompol Heny. (Marend)

 

Leave a Reply