Bupati Kumendong: Program CABI Baik Bagi Peternak Babi Untuk Tingkatkan Produksi

Minahasa – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Minahasa bekerjasama dengan Kementerian Pertanian Repoblik Indonesia, dan Food and Agriculture Organization of the United Nation (FAO), memberikan edukasi bagi peternak babi skala mikro kecil.

Kegiatan bertajuk Launching Implementasi Peluncuran Program Community ASF Biosecurity Intervention (CABI), yang dilaksanakan di Desa Pinabetengan Selatan Kecamatan Tompaso Barat, Selasa (19/03) ini, menjadikan Kabupaten Minahasa salah satu dari dua wilayah di Indonesia, sebagai wilayah percontohan, yakni Provinsi Sulawesi Utara.

Tujuan dari pelaksanaan program CABI ini sendiri untuk melatih peternak babi skala mikro kecil, agar memiliki pengetahuan dalam menerapkan Biosecurity, sehingga ini menjadi salah satu solusi bagi peternak untuk memutus mata rantai pengendalian virus ASF, serta dapat memberikan informasi lainnya berkaitan dengan peternakan babi.

Kepala Balai Besar Maros Drh H Agustia M P mengatakan, pihaknya menargetkan dengan program CABI bisa merubah cara beternak babi bagi para peternak dalam rangka mengantisipasi penyakit ASF.

“Nanti ada pelatihan-pelatihan. Target kami, para peternak babi di Kabupaten Minahasa dapat kembali berkembang dengan hasil yang maksimal tanpa ASF,” ujarnya.

Penjabat Bupati Minahasa Dr Jemmy Stani Kumendong MSi mengatakan, kegiatan ini sangat baik bagi peternak babi. Menurutnya, ini bagian dari upaya agar peternak babi bisa menghasilkan daging babi secara maksimal.

“Tujuan utamanya tentu bagaimana peternak babi ini bisa mengantisipasi virus ASF yang memang sampai saat ini belum ada vaksinnya. Dengan demikian, jumlah produksi daging babi akan semakin meningkat tanpa takut lagi dengan virus,” ujarnya.

Lanjut kata Kumendong, dia mengapresiasi Kementerian Pertanian yang bekerjasama dengan FAO, yang telah menjadikan Kabupaten Minahasa sebagai wilayah percontohan. Menurutnya ini sangat baik, mengingat Minahasa adalah pemasok daging babi di Sulut yang mencapai sekitar 30 persen, juga ke daerah-daerah lain di luar Sulut.

“Saya memberikan apresiasi buat panitia penyelenggara dan peternak. Peternakan babi merupakan salah satu sektor unggulan di Minahasa yang menunjang ekonomi. Memang ini butuh komitmen yang kuat agar semua bisa terealisasi,” ujarnya.

Harga daging babi saat ini memang cukup tinggi disebabkan dampakndari virus ASF. Saat ini harga per kilogram mencapai Rp 110.000, yang padahal harga normal sekitar Rp 60.000 – Rp 65.000

“Kenaikan harga babi ini juga menjadi salah satu faktor kenaikan inflasi di daerah. Salah satu penyumbang inflasi di Minahasa dan Sulut. Untuk itu, perlu disikapi. Kegiatan ini bagian dari upaya agar para peternak bisa beternak dengan baik, menghasilkan dengan baik tapi harganya tetap stabil di harga normal,” pungkasnya.

Sementara, Perwakilan FAO untuk Indonesia dan timur Leste Rajendra Aryal berharap, kiranya kegiatan ini menjadi solusi bagi para peternak.

Turut hadir, Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, diwakili ketua kelompok substansi perlindungan hewan, Drh Ira Firgorita, Kepala Dinas Pertanian Minahasa Dr Ir Margaretha Ratulangi MAP, Camat Tompaso Barat, Stevri V Pandey ST MAP, Hukum Tua Pinabetengan Elsye Tandaju, dan para Peserta Peternak.(fernando lumanauw)

Tinggalkan Balasan