Manado – Nasib orang memang tidak ada yang pernah tahu. Agus Fatoni misalnya, ia mungkin tak pernah berharap menjadi seorang gubernur. Namun nasib baik berpihak kepadanya.
Di awal karir birokrat sempat menjadi ajudan gubernur, kini ia menjadi Pjs Gubernur Sulut.
Kepada wartawan, Rabu (30/09/2020) sore di Rooftop Rudis Gubernur, Fatoni mengatakan kita tidak harus memilih bernasib baik karena nasib baik bukanlah pilihan.
“Kita hanya perlu menjadi orang baik dan melakukan yang terbaik, hampir pasti kita akan bernasib baik,” tutur pria yang pernah mendapat predikat Mahasiswa Teladan IIP ini.
Mau tahu kunci sukses di balik perjalanan karirnya?
Fatoni memberi bocoran.
‘”Dalam tugas kita ingin berhasil. Untuk berhasil harus fokus, dan tidak buang-buang waktu untuk yang tidak penting,” ujar Fatoni yang saat itu didampingi Sekprov Sulut Edwin Silangan SE MS, Asisten 3 Bidang Administrasi Umum AG Kawatu SE MSi, Pjs Bupati Minsel Drs Meiki M Onibala MSi dan Kepala Badan Kesbangpol Daerah Provinsi Sulut Steven Evans Liow SSos MSi.
Selain fokus, satu kunci sukses penting juga tak tanggung-tanggung dibagikannya.
“Kalau mau sukses, jangan matikan lampu orang. Tapi, kita perbesar lampu kita. Pada saat kita mematikan lampu orang lain, habis energi kita. Tapi kalau kita fokus kerja, lampu kita besar terus, jika lampu qt besar, maka upaya orang untuk memadamkannya akan split,” kata birokrat Terbaik dalam Diklat Kepemimpinan II Tingkat Nasional ini.
Dan baginya, yang terpenting juga adalah menjadi diri sendiri. Meski dalam upaya menjadi diri sendiri, kita lantas meniru orang lain, menurutnya tidak mengapa selama hal yang kita tiru itu adalah hal yang baik. “Kita tiru yang baiknya saja, tapi yang buruknya jangan kita tiru,” lanjutnya.
Fatoni just ternyata pernah merasakan perjuangan merintis karir dari bawah.
Tak heran, putra Waykanan Lampung ini bisa dipercayakan menakhodai Provinsi Sulawesi Utara dalam kapasitas sebagai Pejabat Sementara (Pjs). Mulai dari menjadi anak kos, hingga menjalani pendidikan yang ‘keras’, semua telah menggemblengnya menjadi pribadi yang kokoh dan tak mudah menyerah. “Kesulitan yang besar dapat kita jalani kalau kita berhasil melewati kesulitan demi kesulitan, dari yang kecil sampai yang besar,” ujarnya.
Menjawab pertanyaan wartawan, Fatoni mengaku sudah pernah ke Manado namun belum pernah ke Manado.
“Saya tidak hobi jalan-jalan. Saya terkadang juga bahagia meski berada di dalam kamar saja. Standar bahagia bagi setiap orang itu berbeda-beda,” aku ayah dari tiga orang anak ini.
Dalam kerjasama dengan insan pers, sebagai mantan ajudan Gubernur Lampung, Fatoni dalam tugasnya sering berhubungan dengan wartawan.
“Saya suka berteman. Jadi sekarang ada teman-teman wartawan dulu yang sudah jadi Pimred, dan hubungan kami tetap terjalin dengan baik. Dan saya mengapresiasi persatuan dan kekompakkan wartawan di sini,” katanya.
Hubungan antara birokrat dan pers, menurutnya, harus bersinergi.
“Tugas kita seperti halnya sebuah tim, punya peran dan tugas yang berbeda tapi punya tujuan yang sama yang merujuk pada UUD di alinea keempat. Itulah perlunya sinergitas sebagai sebuah tim.
Saya berharap kita bisa bersinergi. Era dulu selalu ada serang menyerang. Tapi sekarang era bersama-sama. Ke depan kalau ada sesuatu yang perlu diperbaiki silakan disampaikan.
Apabila ada yang bisa kami lakukan, akan kami lakukan. Yang penting dalam hati kita tulus. Jangan ada dusta di antara kita,” paparnya diakhiri dengan ungkapan bernada santai tapi serius.
Dalam menjalankan tugas sebagai Pjs Gubernur, Fatoni mengungkapkan rencananya untuk meninjau kabupaten dan kota di Sulut. “Tapi yang prioritas adalah daerah yang akan menyelenggarakan Pilkada. Harus kita pastikan setiap tahapan Pilkada berjalan dengan aman dan terutama aman dari Covid-19,” imbuhnya.




















