by

Enggan Disalahkan, Mantan Rektor UNIMA Philoteus Tuerah Tak Terima Baik Diberhentikan Menristek-Dikti RI

Minahasa – Terkait surat keputusan Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Menristek-Dikti) RI nomor 35/M//KPT/KP/2016, tertanggal 13 Mei tahun 2016 terkait pemberhentian sementara dari jabatan, mantan Rektor Universitas Negeri Manado (UNIMA) Prof DR Philoteus Tuerah MSi DEA mengaku tak menerima baik hal tersebut.

Hal ini diungkap Tuerah melalui juru bicaranya Allan Sinyo Parinusa SSos kepada Cybersulutnews.co.id, terkait pemberitaan sebelumnya atas pemberhentian Tuerah dari jabatan sebagai Rektor UNIMA oleh Menristek-Dikti karena kasus pembukaan kelas jauh Strata dua (S2) di Nabire Papua tanpa izin dan melanggar Undang-undang nomor 12 tahun 2012 tentang Perguruan Tinggi.

Dikatakan Parinusa, mantan Rektor Tuerah sangat menghargai keputusan yang diambil atau dikeluarkan oleh Menristek-Dikti RI Mohammad Nasir. Hanya saja, pemberhentian sementara tersebut sangat tidak diterima baik.

Parinusa beralasan bahwa Jumat (13/05) pekan lalu itu adalah hari terakhir mantan Rektor masuk kantor, karena masa jabatannya berakhir tanggal 14 Mei. Sehingga memang masa jabatannya di UNIMA sudah berakhir secara periodik.

“Bagaimana mungkin Menteri memecat rektor yang notabene sudah berakhir masa jabatannya,” ujar Parinusa.

Sementara, ketika disinggung soal pemberhentian sementara dikarenakan melanggar aturan karena membuka kelas jauh di Nabire Papua tanpa izin, Parinusa membela diri dan enggan disalahkan.

Menurutnya, UNIMA mengacu pada MoU dengan Pemerintah Daerah Nabire, karena berdasarkan MoU, perkuliahannya di Tondano bukan di Nabire dan penelitian Tesis-nya di Papua karena para mahasiswanya adalah PNS di Nabire, dan soal MoU tersebut Menristek-Dikti belum melihatnya.

“Antara UNIMA dengan Pemerintah Nabire ada MoU. Apa ada yang salah? Apa Menteri sudah baca isi MoU tersebut? Karena belum baca makanya diberlakukan pembebasan sementara dan bukan diberhentikan atau dipecat. Jangan salah menafsirkan nanti salah makna,” tukas Parinusa.

“Sebenarnya Rektor sudah memberikan klarifikasi kepada Menristek-Dikti beberapa hari sebelumnya. Dimana dalam klarifikasi tersebut menyebutkan, perkuliahan untuk empat mata kuliah yang dilaksanakan di Nabire dibatalkan dan para mahasiswa wajib kuliah ulang di Kampus UNIMA Tondano. Selanjutnya, UNIMA bukan membuka program studi melainkan konsentrasi untuk Ilmu Kesehatan Masyarakat dan dibawah Program Studi Ilmu Keolahragaan di FIK, dan terkait konsentrasi ini, itu masih dalam proses untuk jadi program studi seiring terbitnya rekomendasi-rekomendasi sebagai persyaratan yang dibutuhkan,” terang Parinusa, sembari menambahkan bila Menristek-Dikti akan menempuh lewat jalur hukum maka mantan Rektor UNIMA siap menerima hal tersebut dan akan ikut aturan mainnya.(fernando lumanauw)

Comment

Leave a Reply

News Feed