DI tengah pertarungan politik Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), kesederhanaan dan kebersahajaan seorang Benny Joshua Mamoto teruji. Ia menujukan kemurnian dan kebesaran hati terhadap cita-citanya membangun Sulut yang dicintainya dengan segenap jiwa raga, lewat surat terbuka untuk masyarakat.
Diawali dengan ucapan salam sejahtera, damai Tuhan dalam hati kita semua, jenderal polisi bintang dua itu menyapa rakyat pemilih Sulawesi Utara yang ia cintai.
Ia menuliskan, bahwa hampir satu bulan lamanya ia berkeliling menyapa saudara-saudara di berbagai pelosok Sulawesi Utara. Mendengarkan, merasakan dan berbagi gagasan, hingga ia menyadari bahwa ia dan seluruh rakyat Sulut benar-benar diberkati oleh Tuhan hidup di Bumi Nyiur Melambai.
Setelah menempuh tahapan Pilkada dan perjalanan mengelilingi seluruh daerah di Sulut, bagi BJM, Sulut bukan sekadar nama propinsi di utara Indonesia. “Bahwa di Sulawesi Utara kita percaya, takut kepada Tuhan akan menumbuhkan toleransi pada sesama manusia. Takut pada ketertinggalan akan mendorong kita untuk bekerja sama meraih kemajuan.
Serta takut pada kegagalan membuat kita akan penuh pertimbangan dalam mengambil keputusan. Dan di atas itu semua, rasa syukur atas berkat Tuhan yang berlimpah ini kita wujudkan dalam kerja nyata untuk Sulawesi Utara,” tulis mantan Kepala BNN Republik Indonesia itu.
Kepada seluruh masyarakat, dengan berbesar hati, ia mengakui kekuatan politik tak berada di tangannya dan pentas Pilkada adalah pengalaman pertama baginya di dunia politik.
“Saya melihat politik sebagai jalan pengabdian, sebagaimana jalan panjang pengabdian yang telah saya lalui di dunia kepolisian. Pemilihan kepala daerah, kontestasi politik yang saya ikuti sekarang ini, adalah salah satu jalan yang saya pilih untuk membaktikan diri kepada masyarakat Sulawesi Utara,” tulis BJM.
Sosok yang pernah menjadi pembicara di Sidang Umum Interpol yang dihadiri oleh 193 negara tahun 2012 silam itu, juga mengakui perjalanannya di Pilkada bukan hal yang mulus dan gampang.
“Pernah saya sampai pada satu titik untuk meredam keinginan dengan cara menyerahkan semua keputusan pada Tuhan. Hingga akhirnya Tuhan menunjukkan jalan ber-BEDA, dengan ketulusan niat saya akhirnya maju menjadi calon gubernur bersama bapak David Bobihoe,” aku dia.
BJM juga mengakui, survei dan data menunjukkan bahwa popularitasnya berada di bawah pasangan calon nomor urut 1 dan nomor urut 2. “Saya belajar banyak, dalam politik angka-angka itu ternyata bernilai penting untuk meraih suara terbanyak nantinya. Akan tetapi saya kembali menyadarkan diri sendiri, bahwa perjuangan saya ini bukan sekedar demi angka-angka tetapi demi perwujudan gagasan saya dan saudara-saudara sekalian untuk Sulawesi Utara tercinta,” tulis BJM yang pernah menangani banyak kasus korupsi, di antaranya, penyelidikan kasus BLBI ke Amerika Serikat dan Singapura.
“Saya tidak akan menyerah oleh angka-angka sebab saya lebih percaya pada kehendak jujur saudara-saudara nantinya di bilik suara. Dan di atas segalanya, saya lebih percaya pada kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa,” tegas BJM, sosok yang disegani dunia internasional, namun dicintai masyarakat kecil itu.
Ia juga menambahkan, bahwa surat terbuka yang ditulisnya bukan untuk meminta dukungan pada tanggal 9 Desember mendatang. “Dengan segala kerendahan hati, saya meminta dukungan saudara-saudara. Bukan demi jabatan, tetapi demi gagasan-gagasan yang saudara percayakan kepada saya.
Saya tidak menginginkan singgasana kekuasaan, biarkan kekuasaan itu tetap milik-Nya sementara kita abdikan diri bersama-sama demi tanah tercinta ini. Percayalah, Sulawesi Utara butuh kepemimpinan BEDA untuk menghadapi tantangan demi tantangan yang penuh dinamika,” tegas pasangan dari David Bobihoe, yang juga merupakan bupati terbaik tahun 2008 lalu.
Secara pribadi, BJM menyatakan bahwa ia mempertaruhkan kehormatan dalam Pilkada Sulut tanggal 9 Desember 2015 nanti. “Tetapi kehormatan tersebut tidak ditentukan oleh menang dan kalah. Tetapi sejauh mana gagasan-gagasan saya dan pak David Bobihoe demi kemajuan Sulawesi Utara ini bisa diterima oleh semua kalangan, yakni masyarakat, pemerintah dan bahkan dua pasangan lainnya.
Jangan pernah mundur, kita bangun kecerdasan dan harga diri kita. Jangan pernah bercerai karena persoalan agama dan keyakinan. Jauh lebih penting menghadapi tantangan dari negeri seberang. Torang samua Basudara, torang samua punya suara,” pungkas sang jenderal.




















