Konsumsi Beras Warga Sulut Menurun, Ini Penyebabnya

Manado – Badan Ketahanan Pangan (BKP) Provinsi Sulut membeber, tingkat ketergantungan masyarakat Sulut terhadap beras menurun.

Hal itu ditandai oleh kebutuhan konsumsi beras tahun 2010 sebesar 113 kilogram pertahun, pada tahun 2014 turun menjadi 107 kilogram pertahun dan pada tahun 2015 turun lagi menjadi 106 kilogram pertahun.

Penurunan tingkat ketergantungan masyarakat Sulut terhadap konsumsi beras itu, menandakan keberhasilan BKP Sulut dalam menjalankan agenda program Diversifikasi Pangan.

“Ya, ada penurunan angka ketergantungan. Sekarang konsumsi pangan tidak hanya mengandalkan beras, akan tetapi sudah ada yang beralih ke pangan lain, seperti jagung, ubi dan terigu,” ungkap Kepala BKP Sulut, Ir Jemmy Kuhu, Rabu (08/06) di kantor BKP Sulit jalan Martadinata Manado.

Menurut Kuhu, program diversifikasi pangan di Sulut dikemas dalam program bertajuk Gentanasi (Gerakan sehari tanpa nasi). “Program ini bisa dikata berhasil menurunkan ketergantungan masyarakat Sulut akan beras berkat sosialisasi yang gencar dilakukan BKP,” ungkap Kuhu.

Selain program Genanasi, menurut Kuhu, menurunnya konsumsi nasi (beras) di Sulut karena masyarakat mulai menyadari pentingnya gaya hidup sehat. “Banyak masyarakat yang telah merubah pola makan mereka. Di mana masyarakat telah mengurangi konsumsi karbohidrat mereka. Kita lihat banyak orang yang melaksanakan program diet dengan mengurangi makan nasi terutama pada malam hari,” kata Kuhu.

Kuhu menambahkan, strategi keberhasilan program BKP lainnya adalah pengolahan bahan pangan berkarbohidrat non beras menjadi aneka makanan yang menarik.

Tinggalkan Balasan