
Manado – Setelah enam kali terjadi tawuran antar- kampung dalam waktu 10 hari dan telah membuat masyarakat resah, tiga kelompok yang bertikai dan memakai panah wayer di Tuminting akhirnya berdamai di Koramil Tuminting, Kamis (22/7/2014).
Tiga kelompok yang dikumpulkan di Koramil Tuminting tersebut antara lain, Lumba-lumba (Sindulang Dua, Lingkungan Dua), Cinderela (Sindulang Satu), dan Kampung Sanger (Sindulang Dua, Lingkungan Tiga).
Setelah dikumpulkan di Koramil, para perwakilan dari ketiga kelompok tersebut kemudian menandatangani sehelai kertas kesepakatan perdamaian dan disaksikan serta turut ditandatangani Danramil 1309-01 Tuminting Kapten Inf Samudji, Dandim 1309 Manado Letkol Kav Dino Martino, Kapolsek Tuminting AKP Matius Amiman dan atas nama Camat Tuminting Lurah Sindulang Dua.
“Setelah terjadi sekitar enam kali tarkam dalam waktu 10 hari, kami kemudian mengumpulkan mereka yang terlibat (ketiga kelompok) di sini,”ujar Kapten Inf Samudji Danramil 1309-01 Tuminting.
Lanjutnya, selama terjadi tarkam ia bersama pihak berwajib selalu turun langsung ke lokasi untuk melakukan pengamanan dan pembubaran massa. “Seringkali saya hampir terkena lemparan batu,” ujarnya.
Ia kemudian menghimbau kepada semua yang terlibat dalam tarkam agar setelah penandatanganan surat kesepakatan perdamaian, tidak ada lagi perkelahian dan tidak mudah terprovokasi. “Jangan mau diadu domba oleh orang lain, jika ada yang melanggar maka kami akan ambil tindakan hukum,” ujarnya.
Terpisah, Kapolresta Manado Kombes Pol Sunarto meminta semua pihak agar dapat menahan diri. Dia pun berharap agar masyarakat jangan mudah terprovokasi terkait maraknya pertikaian antar-kampung dengan menggunakan senjata tajam jenis panah wayer.
“Kami minta kepada masyarakat untuk tidak terprovokasi, apabila ada yang memprovokasi laporkan ke Polsek atau Polres untuk ditindaklanjuti,” katanya.
Pihak Polresta Manado sendiri hingga saat ini telah mengevaluasi pasca-terjadinya pertikaian. Menurutnya, dari hasil evaluasi yang melakukan adalah bukan masyarakat setempat tapi dari daerah atau kampung lain.
Mereka pun melakukan aksi tersebut dengan menggunakan sistem hit dan run. “Maksudnya habis melakukan di suatu tempat mereka menghilang,” terangnya.
Lebih lanjut, Sunarto mengatakan, penyelidikan terkait tarkam yang sebagian besar dilakoni oleh generasi muda ini belum mengarah pada suatu kondisi yang sengaja dirancang oleh oknum tertentu.
Namun, pihaknya akan menelusuri apakah ada provokatornya atau sponsor yang mengakibatkan situasi tidak kondusif. Kata Sunarto, Polres akan tetap melakukan kerjasama dengan pihak-pihak lain untuk sama-sama buat Manado aman.(eve)




















