Manado – Musyawarah Nasional (Munas) I Badan Musyawarah Antar Gereja (BAMAG) di Manado membahas isu-isu strategis terkait perkembangan gereja di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu isu penting yang dibahas yakni terkait pelarangan pembangunan gereja di beberapa daerah di tanah air.
Gubernur Sulut DR Sinyo Harry Sarundajang (SHS), yang membuka Munas 1 BAMAG mengatakan bahwa isu pelarangan pembangunan gedung gereja merupakan pekerjaan rumah yang harus di selesaikan. “Kita berharap kebebasan beragama termasuk pembangunan gereja merupakan hak masyarakat yang dijamin undang undang.
Namun kebebasan tersebut jangan juga mengganggu kebebesan umat beragama lain. Intinya, pelarangan pembangunan gereja harus dimusyawarahkan bersama dengan pemeluk agama lain di suatu daerah agar kebebasan beragama masing-masing tidak saling terganggu,” pesan SHS.
Lebih lanjut SHS mengatakan, BAMAG harus menjadi sarana perwujudan dan memperkokoh tujuan berbangsa dan bernegara dan sebagai sarana persatuan umat Kristiani dalam bingkai kesatuan Republik Indonesia.
Menurut SHS, dalam melaksanakan Tri Tugas Panggilan Gereja yakni Bersekutu, Melayani, dan Bersaksi, maka gereja berperan penting dalam pembangunan iman dalam kehidupan bermasyarakat dan berjemaat. Dinamika dunia saat ini yang mengalami banyak arus pencobaan, gereja di uji untuk tetap menjadi pilar kerukunan dan kebersamaan yang telah dibangun selama ini.
SHS berharap melalui BAMAG bisa menjadi media pemersatu dalam masalah SARA. “BAMAG harus bisa menuntun gereja untuk bertransformasi dan berbenah diri kearah lebih baik lagi,”ingatnya.
Gubernur SHS juga mengharapkan bisa terjalin komunikasi yang baik antar sesama pemimpin, menyamakan persepsi dalam pemahaman akan tujuan pelayanan Gereja di dunia. “Dalam Munas yang akan memilih pemimpin Bamag ini diharapkan juga para pemimpin dan pengurus dapat menunjukan upaya terbaik dalam mengemban amanahyang dipercayakan,”katanya.
Wakil Gubernur DR Djouhari Kansil sebagai ketua panitia dalam sambutannya juga menyatakan Munas ini diselenggarakan guna meningkatkan kehidupan masyarakat warga gereja yang berkualitas, bekerjasama antar pemimpin gereja dan pemerintah dalam memahami kebijakan pemerintah serta pembinaan kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara.
“Peserta yang hadir merupakan utusan dari 33 Provinsi dengan jumlah peserta kurang lebih 250 orang, kegiatan ini akan dilaksanakan Tiga hari sejak 26 hingga 28 November 2014,”katanya.
Staf ahli Menteri Agama Abdul Fatah, yang turut hadir dalam acara pembukaan memberikan apresiasi kepada pihak yang berkontribusi dalam pelaksaan Munas ini. Berbagai persoalan agama di Indonesia begitu kompleks, melalui BAMAG dirinya berharap semua persoalan bisa mendapatkan solusi.
“Peran BAMAG penting dalam mengedepankan asas kebersamaan dengan bisa menekan persoalan sosial kemasyarakatan yang selama ini terjadi dalam masyarakat,” katanya.




















