Manado – Decky Lantu yang selama ini dikenal sebagai politisi dan kontraktor di Sulawesi Utara (Sulut) akan merambah dunia perfilman Indonesia. Hal ini akan teralisasi karena ia sudah menyiapkan anggaran miliaran rupiah untuk membuat film berjudul ‘Hitam Putih Metropolitan’.
“Film ini 60 persen akan menggunakan aktris dan aktor asal Manado yang selama ini telah malang melintang di sinetron dan film di Jakarta. Serta akan dilakukan casting pemain film lokal orang-orang di Manado,” ungkap Deklan, panggilan akrabnya di Cafe Rike 43.
Deklan yang pernah menjabat Ketua Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Sulut dan memimpin Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN) Sulut ini melanjutkan, film yang akan diproduserinya akan mengambil syuting awal di beberapa tempat di Sulut, yakni Kota Manado, Minahasa, dan daerah lainnya.
“Intinya ini untuk promosi Sulut. Dan syuting akan segera mulai dalam beberapa bulan ke depan, karena naskah dari film saya ini sudah selesai dibuat. Dan saya menggunakan sutradara Denny Januar yang sudah berpengalaman dan pernah menyutradai Film Si Buta dari Goa Hantu,” kata Mantan Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Kontruksi (LPJK) Sulut ini.
Ditanya bocoran cerita film tersebut, ayah tercinta dari Almarhum Glen Lantu ini mulai bercerita. Menurutnya, film ini terinspirasi kisah film action dengan aktor Bruce Lee pada Fists of Fury, tetapi dikemas dalam cerita asli Manado.
“Ini menceritakan kisah seorang anak laki-laki di Manado yang ditinggalkan ibunya saat masih kecil ke Jakarta karena tidak tahan dengan keadaan ekonomi keluarga. Ibunya meninggalkan anak laki-lakinya kepada suaminya,” tutur dia.
Kelak, lanjut Deklan, ketika beranjak dewasa anak laki-laki tersebut ini mencari ibunya ke kota metropolitan Jakarta dengan berbekal foto keluarga.
“Tetapi setting-nya anak lelaki ini terlebih dahulu terbentuk di Manado, menjajal dunia premanisme dengan berbekal ilmu beladiri yang dipelajarinya sejak kecil.
Ketika di Jakarta, di situlah anak lelaki ini bertemu kehidupan paling keras terutama bergaul dengan bandar narkoba, perjudian, prostitusi dan lainnya,” cerita Deklan.
“Pokoknya ada adegan action, percintaan, dan kisah sedih. Dan kalau di Manado akan gunakan bahasa Manado, ketika di Jakarta tentu akan menggunakan gaya bicara orang metropolitan. Ya, tunggu saja, pastinya ini akan menjadi film dengan identitas torang di Manado,” tutup Decklan.
Menanggapi Film yang akan diproduseri Decklan ini, tokoh masyarakat Sulut, Jonny Sondakh bersama komunitas Warung Kopi Rike 43 mendukung dan berbangga atas film tersebut. “Jelasnya film ini harus menonjolkan karakteristik orang Minahasa. Dan kami bangga dengan gebrakan Pak Deklan untuk perkenalkan Sulut dalam dunia perfilman,” ucap Sondakh.














