Tomohon – Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM selang empat sampai enam periode terakhir ini, dinilai telah mengabaikan dan melakukan pembiaran terhadap Program Pembinaan Warga Gereja (PPWG). Padahal PPWG ini dapat menggerakkan seluruh jemaat GMIM dengan mengembangkan Ketatalayanan Bidang Keuangan Jemaat demi untuk tanggung jawab dan kemandirian keuangan Jemaat dan GMIM secarah menyeluruh. Diketahui, Eklesiologi Teologi Reformasi Calvin secara utuh yang dikembangkan oleh pemimpin GMIM terdahulu yakni Pdt.AZR Wenas dan Pdt.RM Luntungan, tak mendapat minat oleh pemimpin GMIM saat ini untuk ditumbuh-kembangkan.
”Eklesiologi Teologi Reformasi Calvin secara utuh yang dkembangkan oleh pendahulu BPMS yaitu Pdt.AZR Wenas dan Pdt.RM Luntungan, mulai diabaikan bahkan mengalami erosi oleh Pemimpin-pemimpin Sinode GMIM saat ini. BPMS saat ini hanya menekankan pada aspek Persekutuan kedalam GMIM saja dengan mengabaikan dan membiarkan aspek-aspek kesaksian dan pelayanan,”ungkap tokoh GMIM dr BA Supit.
Menurut Supit, BPMS saat ini lebih terkosentrasi pada Pelayan Khusus GMIM dalam mengumpulkan persembahan dana dari anggota jemaat melalui berbagai cara yang tidak etis dan gerejawi, dimana sudah menjadi trend materealisme dan konsumerisme dalam kehidupan GMIM dengan hanya memperhatikan pembangunan gedung-gedung gereja yang serba mewah, pembangunan sarana kantor Sinode yang mewah, penyediaan kendaraan beroda empat bagi jemaat dan sinode serta pembayaran jaminan hidup dan honorarium secara konvensional dan ikonvensional yang hamper tak terkontrol dan tidak gerejawi lagi.
Supit juga menilai, kualitas pelayanan diakonia GMIM berupa pendidikan mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi dan pelayanan kesehatan rumah sakit-rumah sakit serta pelayanan sosial GMIM mengalami degradasi dan erosi yan sangat parah dan mengkhawatirkan.
“Suara Kenabian Gereja dan sikap Pastoral Pemimpin Gereja yang ditonjolkan Wenas dan Luntungan kini tidak ada lagi. BPMS saat ini tidak menampakkan lagi suara kenabian GMIM dan sikap Pastoral GMIM terhadap Jemaat, Pemerintah, Dunia Politik, Dunia Ekonomi dan Bisnis serta Budaya di tanah Minahasa dan Indonesia pada umumnya bahkan telah mengalami erosi dan hamper tidak lagi terdengar maupun dirasakan,”ketus Supit.
Untuk itu dia berharap, BPMS yang baru nantinya untuk mereflleksi kembali tentng program pelayanan yang digagas pendahulu dan konsolidasi sesama BPMS, Wilayah dan jemaat serta seluruh aras pelayanan di lingkup GMIM.(Maria Wolajan)




















