
Diceritakan gadis remaja berparas cantik itu, dalam sehari, tiga sampai empat kali ia dipompa pelaku H. Tak hanya dilecehkan pelaku H. Korban juga mengaku dijual istri H berinisial E ke pria hidung belang, dengan tarif jutaan rupiah.
“Setelah melayani tamu, saya diberikan uang Rp 200 ribu. Saya tidak mengadu karena merasa ketagihan. Saya juga mau jika disuruh pelaku untuk berhubungan badan,” kata korban yang mengenakan kaus hitam kepada sejumlah wartawan, Jumat (06/11/2015), di Manado.
Mirinya lagi, kasus pelecehan seksual yang dilakukan H diketahui sang istri. Meski begitu, sang istri membiarkan suaminya berhubungan badan dengan korban.
“Sampai di tempat setrika saya digauli. Dan itu diketahui istri H. Dia malah menyuruh suaminya untuk terus menggauli saya. Dikatakannya supaya saya jadi terbiasa,” terang pelaku, sembari menambahkan jika ia selalu diancam untuk tidak membocorkan perbuatan mereka.
“Kata pelaku H, jika saya melaporkan kasus ini, saya akan dihabisi. Selan itu, saya juga yang akan merasa rugi dan malu jika perbuatan ini diketahui orang banyak,” tuturnya.
Diceritakan pelaku juga, jika pelaku H adalah seorang pelayan Tuhan. Sedang, istrinya adalah Dosen di Politeknik. Perbuatan pelecehan seksual pertamakali dialami korban pada 22 April, sekitar pukul 15.00 Wita, di Kelurahan Tanjung Batu, Kecamatan Wanea.
Saat itu pelaku E atau ibu angkat korban bersama anak mereka berinisial R, tidak berada di rumah. Melihat tubuh mungil korban, ayah angkat bejat itu kemudian masuk ke dalam kamar dan langsung melucuti pakaian korban.
Sedangkan pintu kamar dikunci rapat pelaku. Mendapat perlakuan tak senonoh dari pelaku, korban pun berontah dan berteriak minta tolong. Kain syal merah tua yang dibawa pelaku malah dipakai untuk membekap mulut korban.
Pelaku selanjutnya menggauli korban hingga kemaluannya mengeluarkan bercak darah. Perbuatan paksa pelaku menyebabkan korban merasa kemaluannya sakit selama sepekan.
Perbuatan itu juga dilakukan berkali kali, termasuk ketika korban pulang sekolah. Jika korban sedang haid, pelaku memintanya untuk (maaf) blowjob.
Akibat selalu ditindih, korban akhirnya hamil, namun diberi obat khusus. Tak pelak korban merasa keguguran karena melihat ada gumpalan darah dan daging-daging kecil saat dia haid. Korban pun menderita pendarahan selama seminggu.
Perbuatan tak senonoh itu dilakoni pelaku H hingga Agustus. Bulan September, korban ke Jakarta. Disinilah korban diancam pelaku agar tidak memberitahukan orang lain perihal tindakan biadab oknum pelayan Tuhan tersebut.
Selama di Manado, korban selalu dipukul ibu angkatnya. Korban sempat dipukuli hingga baju robek dan ditodong dengan golok. Oknum Dosen ini juga ditengarai telah menjadikan korban sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK) dengan menjual korban di sejumlah hotel di Manado.
Kasus itu pun kemudian dilaporkan tante korban, Reintje Polandos (60), warga Desa Matungkas, Jaga IX, Kecamatan Dimembe, Kabupaten Minut, ke Mapolda Sulut. (jenglen manolong)




















