Minut – Elpiji di Minut terancam langka. Ini karena banyak rumah makan menggunakan Elpiji ukuran 3 kg. Kabag Ekonomi Pemkab Minut Michael Karisoh mengatakan, sidak yang dilakukan belum lama ini menemukan banyak restoran masih menggunakan elpiji 3 kg.
Jumlahnya tak tanggung – tanggung, tujuh tabung setiap hari. “Itu hasil temuan kami,” kata dia. Menurut Karisoh, penggunaan tabung elpiji 3 kg sebanyak itu berpotensi menyebabkan kelangkaan. Dalam hitungannya, jika tiap rumah makan menggunakan tujuh tabung, maka sebulannya bisa ratusan tabung. “Bisa saja terjadi kelangkaan,” kata dia.
Diungkap Karisoh, aturan secara jelas melarang penggunaan tabung gas berukuran 3 kg untuk rumah makan besar atau restoran. Pihaknya kini gencar memberi sosialisasi ke pemilik rumah makan besar tentang penggunaan gas elpiji 12 kg. “Itu lebih menguntungkan, para pemilik rumah makan hanya malas saja,” katanya.
Pemkab Minut akan menggelar operasi pasar untuk mencegah kelangkaan elpiji jelang hari raya Lebaran. Pengalaman selama ini, kelangkaan elpiji selalu terjadi jelang hari raya.
Contohnya jelang hari raya Natal lalu, ketika elpiji langka dan harganya mencapai 25 ribu per tabung. “Kita akan gelar operasi pasar elpiji,” kata Karisoh.
Belum lama ini, Karisoh menyatakan, Pemkab sudah meminta tambahan kuota elpiji sebesar 10 persen. Dia berjanji akan memberi sanksi keras pada agen yang main mata dengan pangkalan. “Misalnya, agen beri jatah banyak pada pangkalan yang sudah jadi langganannya, sementara pangkalan lain hanya sedikit, itu akan kami tindak,” bebernya. (tcm)



















