Jadi Destinasi Wisata Andalan, Gunung Tumpa Dibangun Patung HV Worang

Manado – Upaya Gubernur Olly Dondokambey dan wagub Steven Kandouw (OD-SK) dalam mengembangkan sektor pariwisata Sulut sudah berada pada rel yang tepat menuju Sulut Hebat. Kerja nyata OD-SK mendatangkan wisatawan di daerah Nyiur Melambai secara langsung berdampak pada peningkatan taraf hidup masyarakat Sulawesi Utara.

Upaya mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya di Sulut harus ditunjang dengan ketersediaan sarana dan prasarana pariwisata yang melibatkan multi sektor.

Kepala Dinas Kehutanan Sulawesi Utara, Herry Rotinsulu (Hero) kepada wartawan membeber dukungan dinas yang ia pimpin dalam pengembangan sektor pariwisata sebagai unggulan OD-SK.

Menurut Hero, Gunung Tumpa akan dijadikan kawasan Hutan Wisata yang akan diberi nama kawasan hutan wisata HV Worang.

Penamaan HV Worang (mantan gubernur Sulut) menurut Hero telah diusulkan ke Gubernur Olly Dondokambey dan telah disetujui orang nomor satu Sulut tersebut.

“Saat ini tengah dibangun Patung HV Worang di atas Gunung Tumpa,” katnya.

Patung HV Worang ini rencananya akan diresmikan Gubernur Sulut Olly Dondokambey pada tanggal 23 September nanti bertepatan dengan perayaan HUT Provinsi Sulut ke-52.

Sebagai payung hukum pengelolaan kawasan hutan wisata ini, Hero mengaku pihaknya telah mendorong lahirnya Peraturan Daerah (Perda).

“Infrastruktur di kawasan Gunung Tumpa ini pembangunannya tengah dikebut. Jalan menuju puncak Gunung Tumpa sementara dibangun oleh Pemkab Minut dan Pemkot Manado,” terangnya.

Adapun Gunung Tumpa-Manado Memiliki bentuk geografis yang sebagian besar berupa daratan tinggi mungkin adalah awal pembentukan gunung-gunung di provinsi Sulawesi Utara ini. Sulawesi Utara memiliki beberapa gunung antara lain Gunung Lokon yang lebih terkenal oleh aktivitas gunung berapinya, juga Gunung Tondano yang memiliki Danau Tondano yang melegenda, juga Gunung Tumpa.

Yang terletak disisi utara kota Manado lebih tepatnya di Kelurahan Tongkaina. Bisa ditempuh tidak sampai 1 jam melalui perjalanan darat yang lancar. Gunung Tumpa memiliki ketinggian sekitar 750 meter diatas permukaan laut.

Ukuran gunung yang cukup kecil, cocok untuk para wisatawan yang bukan berprofesi sebagai pecinta alam namun ingin mencoba menaklukan gunung tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga. Gunung ini merupakan hutang lindung yang hijau dan rindang yang juga ditumbuhi oleh sekumpulan pohon kelapa berupa perkebunan kelapa rakyat.

Dengan ketinggian yang tidak terlalu tinggi untuk sebuah gunung dari Gunung Tumpa para pendaki dapat melihat dengan indah keseluruhan kota Manado serta kepulauan Bunaken. Keindahan Pulau Manado Tua dan Pulau Bunaken terlihat sangat indah dan jelas bentuknya saat memandang ke sisi barat laut.

Gunung Tumpa memang sudah terkenal di Manado untuk pemandangannya, ya karena dengan posisi yang cukup tinggi dari gunung Tumpa wisatawan dapat menyaksikan keindahan lampu-lampu yang menyala menghiasi kota Manado. Untuk pendakian, memang cukup terjal dan menanjak.

Seperti gunung-gunung yang lain di Gunung Tumpa juga belum tersedia penginapan, sehingga para pendaki yang berniat menginap harus mempersiapkan kemah instan sendiri atau kemah yang terbuat dari jas hujan yang muat untuk 1 orang ala pecinta alam, tidak repot kalau memang anda benar-benar berniat untuk menginap untuk menikmati indahnya matahari terbit dipagi hari atau juga saat-saat matahari terbenam di sore hari.

Selain itu di Gunung Tumpa juga bisa ditemukan lokasi wisata bukit doa, meski tak semegah dan seluas bukit doa yang ada di Tomohon, namun bukit doa ini termasuk cukup untuk menjadi tempat refleksi diri sambil menenangkan diri dari kehirukpikukan kota Manado, malah ketenangannya lebih sunyi disini.

Memungkinkan pengunjung yang Nasrani untuk berdoa dengan khusyuk. Di bukit doa ini juga cukup sering digunakan sebagai acara retreat, sebuah acara yang biasanya dilakukan 2-3 hari untuk lebih mendekatkan diri sambil refreshing. Ada juga lokasi wisata yang bernama Mamre Green Hills.
Untuk menuju kedua wisata tersebut pengunjung dapat mencapainya menggunakan kendaraan pribadi karena belum ada angkutan umum yang trayeknya sampai di gunung, namun untuk mencapai titik puncaknya pastilah harus berjalan kaki.

Tinggalkan Balasan