Jakarta – Kawasan Timur Indonesia mengharapkan figur Capres dan Cawapres yang tampil merupakan kombinasi antara perwakilan putra terbaik dari kawasan barat dan timur.
Hal itu merupakan pilihan yang paling rasional karena kawasan Timur sejatinya memiliki posisi tawar yang cukup tinggi. Demikan salah satu butir dari Focus Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan Indopolling Network bertajuk “Mencari Figur Pemimpin dari Timur” di 11 kota tanah air.
“Untuk menaikan posisi tawar, muncul wacana perlunya wakil dari kawasan timur maju sebagai orang nomor satu. Namun jika tidak, ya pilihan yang paling rasional adalah kombinasi barat dan timur untuk posisi orang nomor satu dan nomor dua,” ujar Nasrullah Kusadjibrata, fasilitator FGD Indopolling, lewat realis yang Markus Louis Wantania SH, Koordinator Indopolling Network Sulawesi Utara.
Tidak hanya di level pimpinan nasional, merujuk potensi alam dan putra dari Timur, dari hasil FGD terungkap, mayoritas menginginkan adanya wakil untuk pos-pos tertentu yang lebih maksimal.
“Mereka menginginkan pos-pos strategis bisa dipegang putra terbaik dari timur,” ungkap Nasrullah. Minimal di pos Pendidikan dan Kebudayaan, Kelautan dan Perikanan juga Pertahanan. Kawasan ini kaya akan Kelautan dan Perikanan. “Wilayah timur identik dengan kelautan dan perikanan, karena mereka mayoritas berwilayah bahari, tidak daratan seperti Jawa,” tambahnya.
Selain persoalan pimpinan nasional, bagaimana dengan pembangunan kawasan selama ini? Distribusi pembangunan dan pemimpin antara kawasan barat dan timur Indonesia masih menyimpan banyak persoalan. Kawasan timur belum maksimal terakomodir. Ada ketidakadilan dalam pembangunan, meskipun sumber daya alam (SDA) Kawasan Timur cukup berlimpah tetapi pemerintah kurang mendorong investasi yang masuk di Kawasan Timur Indonesia.
“Tidak hanya persoalan sumber daya alam, persoalan sumber daya manusia dari kawasan timur yang cukup melimpah juga belum banyak diakomodir sebagai pemimpin untuk turut memberi sumbangan pada negara ini,” ungkap Nasrullah. Menurutnya ada 2 persoalan penting yang dihadapi, yakni sistem demokrasi dan kultur.
Pertama, sistem demokrasi di Indonesia masih didominasi kawasan jawa. Ini terjadi karena demokrasi yang berbasis pada jumlah orang bukan pada luasan wilayah.
“Jika pendekatannya masih seperti ini, kawasan timur akan selalu menempati urutan kedua setelah barat,” tambahnya. Persoalan kedua adalah soal kultur. Egosentrisme lokal juga persoalan kualitas sumber daya manusia yang harus lebih baik. Jika masalah ini teratasi, posisi tawar kawasan timur akan lebih bisa ditingkatkan lagi.
FGD yang diselenggarakan Indopolling ini menjaring 11 kota di Jawa, Bali Nusra, Maluku, Sulawesi, Papua dan Kalimantan. “Tujuan FGD tersebut adalah untuk menjaring kader-kader terbaik dari Timur yang layak untuk tampil dalam panggung nasional di berbagai lembaga strategis negara,” ungkap Peneliti Indopolling Wilhelmus Wempy Hadir.
“Konfigurasi kepemimpinan dari dua geopolitik yang ada yakni perwakilan dari kawasan Timur dan Barat dapat membawa manfaat bagi NKRI,” ungkapnya.
FGD berlangsung dalam 3 putaran. Masing-masing putaran serentak dilakukan di 3 kota. FGD Kali ini telah berlangsung putaran ke-2. Adapun tiap FGD terdiri atas 2 sesi. Sesi pertama adalah akademisi perguruan tinggi dan peneliti setempat. Sesi kedua adalah kelompok strategis dari tokoh masyarakat, media, LSM, pemuda atau mahasiswa dan pengusaha.
“Dari dua sesi tersebut, kami mendapatkan insight tentang problem antara kawasan timur dan barat Indonesia terutama figur pemimpin yang bisa mewakili kawasan timur,” ujar Wempy.




















