Pasar Murah Natal Pertama di Minsel

Pemprov persiapkan pasar murah natal
Pemprov persiapkan pasar murah natal

Manado- Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) akan menggelar pasar murah natal pertama di Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel).

Kepala Dinas Perindag Sulut, Olvie Atteng mengatakan pasar murah natal 2013 pertama ini akan dilaksanakan pada Tanggal 20 di Desa Mopolo, Ranoyapo, Minahasa Selatan.

Ia mengatakan untuk pelaksanaan pasar murah tersebut mulai pihaknya matangkan.

“Kami terus mematangkan kegiatan pasar murah natal sehingga program ini mampu menyentuh masyarakat yang membutuhkan,” katanya.

Katanya, pasar murah natal 2013 akan dilaksanakan di 15 Kabupaten/kota.

“Pasar murah natal ini akan difokuskan pada masyarakat yang berpenghasilan rendah sebanyak 74 titik,” jelasnya.

Katanya, sumber dana dalam kegiatan pasar murah ini dari dana CSR BUMN, BUMD, swasta dan perbankan.

Asisten II Pemprov Sulut, Sanny Parengkuan mengatakan memasuki hari-hari besar keagamaan ada kecenderungan harga berfluktuasi.

“Kenaikan harga bahan pokok tidak berbanding linier dengan daya beli masyarakat semakin membebani masyarakat berpenghasilan rendah,” jelasnya.

Lanjut ia katakan, diperlukan penanganan yang komprehensif sehingga tidak menimbulkan kenaikan harga yang signifikan dan berdampak terhadap daya beli masyarakat.

“Penyediaan barang kebutuhan pokok masyarakat dengan harga terjangkau oleh melalui kegiatan pasar murah,” jelasnya.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Perindag Sulut, Hanny Wajong mengatakan untuk bahan pokok yang dipasarkan untuk beras dengan harga Rp5.000 per kilogram, gula pasir Rp7.000/kg, tepung terigu Rp5.000/kg, mentega curah Rp8.500/kg, minyak goreng Rp8.000/kg.

“Akan ada paket kupon yang akan dijual dengan harga Rp55.500 per paket,” jelasnya.

Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulut, Luktor Tapiheru mengatakan pihaknya sangat memberikan apresiasi kepada pemerintah Sulut yang melaksanakan kegiatan ini.

“Kegiatan pasar murah tersebut bisa mempengaruhi inflasi Sulut,” katanya.

Katanya, Inflasi di Sulut sangat dipicu oleh bahan makanan.

“Kalau agenda ini akan menjual kebutuhan makanan, kegiatan tersebut mampu mempengaruhi perkembangan inflasi apalagi menghadapi perayaan Natal dan Tahun Baru,” katanya.

Jadi perlu adanya antisipasi dari kita semua, katanya agar ketersediaan barang mampu diadakan.(Nancy Tigauw)