Perbaikan Jembatan Kuwil Minut Belum Jelas

Minut – Perbaikan jembatan Kuwil masih kabur. Sosialisasi peningkatan kapasitas aparatur pemerintah menghadapi erupsi Gunung Api, baru-baru ini di Hotel Sutan Raja sama sekali tidak menyebut tentang perbaikan jembatan Kuwil. Padahal, salah satu poin dari hajatan itu adalah pemberian bantuan sebesar sekira 200 miliar untuk perbaikan infrastruktur pascabencana di Sulut.

Kepala BNPB RI Syamsul Maarif kepada wartawan mengaku belum mendapat laporan mengenai rusaknya jembatan Kuwil. “Kami belum dapat laporan,” kata Syamsul.

Dikatakan Syamsul, dana sebesar Rp 200 miliar tersebut ditujukan untuk membangun perumahan, infratruktur serta alat cegah bencana di Manado serta sejumlah daerah lainnya minus jembatan Kuwil di Minahasa Utara. Syamsul terkejut ketika mengetahui jembatan tersebut patah saat bencana alam 15 Januari lalu. Ia coba mencari tahu ke beberapa stafnya, yang hanya menggelengkan kepala. “Saya akan cek lagi,” kata dia.

Bupati Minut Sompie Singal yang berada samping Syamsul buru – buru menukas bila pihaknya sudah mengusulkan ke PU pusat. Menurut Sompie, anggaran perbaikan sudah disetujui sebesar Rp 15 miliar. Sompie menegaskan, pembangunan jembatan Kuwil menjadi prioritas pemerintahannya. “Namun untuk pembangunannya harus dilakukan secara bertahap,” kata dia.

Diketahui, jembatan Kuwil putus pada bencana alam 15 Januari lalu. Putusnya jembatan Kuwil sempat membuat warga tiga Desa yakni Kuwil, Kaleosan serta Sampiri terisolir selama beberapa hari.

Hingga kini, warga masih menggunakan jembatan bambu untuk menyeberang.
Hesky, warga Desa Kaleosan mengaku takut kerena jembatan bambu tersebut mulai lapuk. Pegawai honorer Pemkab Minut ini kerap menyeberangi jembatan itu bersama seorang anaknya berusia 10 tahun. “Sangat takut karena jembatan itu sudah lama,” tutur Hesky.

Menurut Hesky, kait jembatan itu sudah beberapa kali diganti, namun bambunya belum.
Jendri warga Desa Sampiri mengatakan, produksi Kopra serta buah – buahan warga terganggu semenjak putusnya jembatan tersebut. Menurut Jendri, warga terpaksa menggunakan jalan tembus Desa Sampiri yang sempit, rusak, serta berbahaya. “Ongkos produksi jadi lebih mahal,” keluh Jendri.

Jendri meminta Pemkab untuk segera mempercepat perbaikan jembatan tersebut. “Mohon segera diperbaiki, karena ini vital bagi kami, setiap hari kami harus bertaruh nyawa melewati jembatan bambu serta jalan yang curam serta berbahaya,”tandasnya.(tcm)

Tinggalkan Balasan