Sekolah Dian Harapan Manado Dinilai Tutupi Kasus Dugaan Cabul, Kedatangan Komnas PA Ditolak

Manado – Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak (PA), Arist Merdeka Sirait dan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Maya Rumantir kecewa dengan sikap Sekolah Dian Harapan (SDH) yang dianggap menutupi kasus dugaan pelecehan seksual yang diduga dilakukan oknum guru berinisial RYS alias Reonaldo.

Pasalnya, ketika mereka hendak melakukan pengecekan di sekolah tersebut, tidak diterima baik oleh pihak sekolah. Hingga akhirnya Sirait dan Rumantir akhirnya memilih untuk meninggalkan sekolah Play Group itu.

Sirait ketika diwawancarai sejumlah wartawan mengaku kecewa dengan sikap dan sambutan yang diberikan pihak SDH. Dengan nada kesal ia menyatakan bahwa pihak sekolah terkesan menolak kedatangan mereka, serta tidak berani memberikan klarifikasi terhadap tuduhan dan sangkaan kasus pelecehan seksual tersebut.

“Kami kecewa terhadap pengelola sekolah ini (SDH, red). Itikad baik kami dengan Ibu Maya Rumantir, ingin bertemu dengan kepala sekolah tapi ditolak. Itu artinya pihak sekolah menolak kehadiran kami. Hal ini membuat kami kecewa. Kekecewaan kami yang kedua adalah, kami tidak dilayani dengan baik. Nah kami mengambil kesimpulan juga bahwa pihak sekolah menutup-nutupi masalah ini,” sesal Sirait, Kamis (13/03) ketika melakukan kunjungannya ke SDH.

Tak hanya itu, selain menyatakan kekesalan tidak diterima dengan baik oleh pihak SDH, Sirait pun mengambil kesimpulan bahwa telah terjadi tindak kekerasan seksual di SDH. Bahkan Sirait menegaskan, pelayanan serta situasi yang ditunjukkan SDH akan berbuntut panjang dan bisa merugikan sekolah itu sendiri.

“Kami di dalam dibuat seperti bola pingpong. Bahkan wartawan saja sudah bolak balik untuk melakukan peliputan, tapi pihak sekolah ini tetap menolak. Jadi intinya, jika tidak memberikan klarifikasi, maka pihak sekolah pasti dirugikan,” tandasnya sembari menambahkan, Jumat (13/3), pihaknya akan melakukan pengecekan penanganan kasus yang ditangani unit PPA Polda Sulut.

Dari informasi yang diterima Cybersulutnews.co.id, sekitar pukul 11.00 Wita, Sirait dan Rumantir, didampingi pemerintah Kecamatan dan Kelurahan, tiba di SDH untuk melakukan klarifikasi dengan pihak sekolah.
Sayangnya, kehadiran Komnas PA dan DPD RI tersebut rupanya tidak dihiraukan pihak sekolah. Bahkan hingga pukul 13.00 Wita, sempat terjadi saling lempar tanggung jawab dan terkesan pihak sekolah enggan menerima dengan baik kedatangan mereka.

Kapolda Sulut, Brigjen Pol Jimmy Palmer Sinaga melalui Kabid Humas, AKBP Wilson Damanik ketika dikonfirmasi terkait rencana kedatangan Komnas PA dan DPD ke Mapolda Sulut mengatakan, pihaknya akan menerima dan siap melakukan pertemuan untuk menyelesaikan kasus dugaan kekerasan seksual di SDH.

“Tentu kami akan menerima kedatangan mereka,” kata Damanik.

Seperti diketahui, Reonaldo oknum guru seni di SDH Manado diduga telah mencabuli dua siswi Play Group di sekolah tersebut. Reonaldo sendiri diringkus tim PPA Polda Sulut, Jumat (13/2) lalu, usai mengajar di sekolah.

Peristiwa tak senonoh itu terungkap pada 30 Januari 2015. Awalnya, korban bersama ibunya sedang menonton televisi di rumah mereka. Tak sengaja, korban tiba-tiba jatuh dari kasur depan TV, kemudian merengek kesakitan karena paha korban terbentur disalah satu sudut.

Anehnya, korban mengeluh sakit dibagian kemaluannya. Curiga, ibunya pun langsung memeriksa dan mendapati kemaluan korban memerah. Setelah dibujuk beberapa waktu, korban akhirnya mengaku jika kemaluannya telah disentuh seorang lelaki.

“Anak saya bilang ada orang yang menyentuh kemaluannya. Katanya orang itu pakai jari telunjuk. Kata dia sudah lima kali. Saat ditanya ciri – ciri, sosok itu mengarah pada seorang guru di sekolahnya. Peristiwa itu katanya terjadi di toilet sekolah,” kata ibunda korban.

Pihak keluarga kemudian ke sekolah, untuk menggali lebih dalam informasi tersebut keesokan harinya 31 Januari. Dibantu seorang guru perempuan, mereka diajak keliling-keliling sekolah. Kala itu Reonaldo sedang di tengah lapangan.

“Saat itu belum ketahuan. Saat pulang rumah, kami coba menanyakan kembali. Lalu anak saya bilang, sir tadi yang di tengah lapangan,” bebernya.

Mendapat pengakuan dari sang korban, Ayahnya kemudian membawa Renaldo ke rumah mereka, untuk kembali memastikan. Saat tersangka bertemu dengan korban, ia langsung ketakutan dan enggan melihat tersangka.

“Anak saya langsung masuk kamar, enggan melihat orang itu,” ujarnya.
Hingga kemudian, pihak keluarga melaporkan kasus tersebut ke Polda Sulut, dan langsung mengamankan tersangka.

Saat dilakukan pengembangan, korban menyebut ada teman lainnya juga menjadi korban, yakni Dis. (jenglen manolong)

Tinggalkan Balasan