Manado – Kematian AKP Bryan Tatontos SIK, putra kawanua yang bertugas di Polda Sulawesi Tengah (Sulteng), hingga kini masih menyiratkan segudang tanya bagi pihak keluarga, lebih khusus kakak kandung Bryan, Gabriella Tatontos.
Kepada wartawan, kakak Bryan menerangkan kalau kronologis kematian adiknya tidak pernah disampaikan secara resmi oleh Polda Sulteng.
“Tidak ada dari pihak sana, cuma ada Bryan punya teman yang anggota di sana datang kemari,” ungkap Gabriella, Selasa (24/08/2015).
Dilanjutkannya, kalau kedatangan teman adiknya untuk memberitahukan informasi atas inisiatif dan bukan perintah institusi.
“Kurang inisiatif karena dia ada mimpi Bryan ada datang,” sambungnya sembari menjelaskan ketika tiba di rumah almarhum, anggota tersebut kemudian menghubungi temannya yang bersama-sama dengan Bryan saat kejadian.
Darisitulah keluarga Bryan memperoleh penjelasan kronologis kematian lulusan Akpol angkatan 2012.
Seperti digembar-gemborkan melalui pemberitaan media, perwira Brimob Polda Sulteng asal Nyiur Melambai ini, dikabarkan tewas tertembak setelah terlibat kontak senjata dengan kelompok diduga teroris, Rabu (19/08/2015), di wilayah Pegunungan Gayatri, Desa Gayatri, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, Sulteng.
Lelaki yang pernah mendapatkan penghargaan sebagai lulusan termuda Akpol, mengalami luka tembak di bagian perut dan kaki.
Terkait peristiwa ini, Komandan Korps (Kakor) Brimob Polri, Irjen Pol Robby Kaligis, ketika dikonfirmasi wartawan, membenarkan gugurnya putra daerah asal Sulut dalam pertempuran di lokasi.
“Memang benar adanya, almarhum meninggal saat sedang tugas. Itu sudah menjadi resiko saat bertugas, jadi kita harus lebih berhati-hati dan waspada karena musuh tidak bisa kita anggap remeh, musuh ada di mana-mana. Mengejar kelompok teroris tidak boleh berhenti, harus terus kerja keras dan teliti,” kata Kaligis melalui telepon genggamnya, Kamis (20/08/2015).
Dari informasi yang diperoleh, Bryan dikenal sebagai anak yang berprestasi saat sekolah. Menurut penuturan salah satu keluarga korban, Bryan sering mendapat juara kelas saat bersekolah, bahkan dirinya masuk kelas akselerasi saat SMP dan menjadi Purna Paskibraka Angkatan 2008.
Dari kronologis yang beredar di media, Bryan terlibat baku tembak antara kelompok Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso. Peristiwa tersebut terjadi sejak Senin (17/08/2015) hingga Rabu (19/08/2015) lalu.
Dalam kontak senjata itu, satu orang terduga teroris Urwah alias Bado, tewas di lokasi Pegunungan Gayatri. Sedangkan Bryan, saat itu bertindak sebagai Komandan Kompi (Danki) yang saat itu memimpin dua regu Brimob untuk melakukan evakuasi mayat teroris Poso, di Pegunungan Gayatri, Poso.
Tim yang dipimpin Bryan, kemudian mengamankan barang bukti bom dan senjata api M-60. Ketika hendak kembali ke Markas, di tengah perjalanan kelompok teroris Poso pimpinan Santoso ternyata menyerang tim evakuasi.
Kontak tembak pun terjadi, Bryan yang saat itu hendak menyeberang sungai dengan posisi barisan kedua terakhir tertembak di perut dan kaki.
Jenazah Bryan pun dikabarkan langsung dievakuasi menggunakan helicopter, karena lokasi cukup jauh dengan medan yang sulit ditempuh.
Pasca kejadian, ratusan personil elite dari Brimob Kelapa Dua Depok, Jawa Barat, langsung diterjunkan ke bekas wilayah konflik Poso untuk memburu kelompok Santoso di pegunungan Poso.
Ratusan polisi tersebut tiba di Bandara Mutiara Sis Aljufri Palu, Kamis (20/08/2015), dengan pesawat komersil. Selain menurunkan ratusan aparat, Polda Sulteng juga menyekat pintu keluar masuk wilayah Poso untuk mempersempit ruang gerak dari kelompok Santoso alias Abu Wardah.(jenglen manolong)




















