Tomohon -Rusaknya tanaman masyarakat di Kelurahan Pangolombian, seperti ketimu dan sambiki (labu) dipastikan bukan disebabkan oleh aktivitas pengelolaan panas bumi yang dilakukan oleh PT Pertamina Gheotermal Energy (PGE) Area Lahendong, seperti yang diduga sejumlah masyarakat disana di cluster V sumur 23. Sebab, dari hasil pengujian yang dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup Kota Tomohon di Water Laboratory Nusantara (WLN), kualitas udara di daerah tersebut masih jauh dari ambang batas.
“Hasil uji kualitas udara di Pangolombian dari Badan Lingkungan Hidup yang dilakukan di WLN pada bulan September 2013 lalu, membuktikan bahwa tak ada pencemaran disana. Sebab, dari hasil uji kualitas udara nilainya kurang dari 20 ug, karena standard baku yang ditetapkan nilainya mencapai 900 ug. Jadi, kerusakan tanaman disana bukan karena uap akibat aktivitas panas bumi yang dilakukan PGE, seperti yang diduga masyarakat,” tegas Fereidy Kaligis, Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Tomohon, Kamis (13/02).
Ia menjelaskan jika tanaman rusak akibat aktivitas PGE, pasti gulma dan alang-alang disekitarnya akan ikut mati juga, tak ada yang akan tersisa, tapi kenyataannya alang-alang tetap tumbuh subur. Apalagi dari hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa udara yang ada di Pangolombian aman bagi semua, tak hanya tanaman tapi juga bagi hewan dan manusia itu sendiri.
“Yang dikhawatirkan warga disana kan adalah pencemaran udara (sulfur), tapi karena kurang dari 20 maka itu artinya tidak ada efek apapun untuk tumbuhan, manusia, bangunan, maupun untuk air dan tanah yang ada disana sesuai yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 41 tentang Pencemaran Udara,” ujar Kaligis.
Sampel untuk pengujian kualitas udara kata dia tak hanya diambil dari area operasi, tapi juga hingga perkampungan yang kini dihuni oleh warga sekitar. “BLH selalu mengawasi kegiatan yang dilakukan PGE, jika ada pelanggaran terutama yang berkaitan dengan lingkungan pasti akan ditegur untuk diperbaiki, agar tak membahayakan juga masyarakat yang ada disana,” tuturnya.
Kendati demikian Kaligis menegaskan tak mengenyampingkan keluhan masyarakat soal kerusakan tanaman disana. Tetap akan dicari tahu pasti penyebabnya, caranya dengan akan dilakukan demplot pada lahan yang tanamannya rusak agar jelas masalahnya apa. “Di lahan yang tanamannya rusak, nanti oleh pemerintah akan dibuat demplot. Artinya, disana akan ditanami tanaman yang sama dengan cara bertani yang benar. Nah, jika hasilnya tetap jelek atau sama dengan yang dikeluhkan petani, maka disana akan dievaluasi apakah karena pengaruh cuaca ekstrim, panas bumi, atau apa hingga gagal panen lagi,” ungkapnya.
Aneke Gosal, Kepala Bidang Pengendalian Kerusakan dan Pemulihan Lingkungan menambahkan hasil uji kualitas udara yang dimiliki pihaknya, diperoleh dari lembaga yang resmi dan diakui akurasinya di Indonesia, tak sekadar mengada-ada saja. “Dari segi lingkungan hidup, memang tak ada masalah berarti di Pangolombian meski ada aktivitas pengelolaan panas bumi oleh PGE disana,” terangnya.(Maria Wolajan)























