Korban Jiwa Diduga Akibat Miras Oplosan di Minahasa, Ini Kata Olviane Rattu

Minahasa – Hingga hari ini, Jumat (03/05), dilaporkan sudah ada sembilan korban meninggal dunia dan enam orang alami kebutaan, di Kabupaten Minahasa, diduga akibat mengkonsumsi minuman keras (Miras) oplosan.

Menyikapi dan menindaklanjuti banyaknya korban tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Minahasa menelusuri penyebab pasti kematian para korban tersebut. Hal ini menyusul dilakukannya uji lab terhadap miras yang diduga dikonsumsi para korban.

“Saat ini telah mengambil sampel guna melakukan uji lab. Namun kita masih menunggu hasilnya, untuk memastikan apa penyebab korban meninggal dunia dan korban lain yang mengalami kebutaan,” kata Kepala Dinas Kabupaten Minahasa, Kamis (02/05).

Disinggung bila penyebab kematian karena miras jenis cap tikus yang dicampur dengan metanol, Rattu menegaskan hal itu belum bisa dipastikan.

“Untuk hal itu, untuk memastikannya harus uji lab, kita tunggu saja hasilnya,” tukasnya.

Namun demikian, secara medis, dijelaskan Rattu, bahwa bahaya zat metanol bagi tubuh manusia memang ada. Menurutnya, ketika metanol masuk dalam tubuh, zat itu akan mudah sekali terserap dalam cairan tubuh dan kemudian akan dimetabolisme oleh enzim alcohol dehidrogenase (DHA) menjadi formaldehid lalu diubah lagi menjadi asam formiat.

“Kedua zat hasil metabolisme tersebut merupakan zat berbahaya dan beracun bagi tubuh manusia,” terang Rattu.

Lanjut kata dia, gejala keracunan metanol pada umumnya muncul 30 menit hingga dua jam setelah mengkonsumsi alkohol yang dioplos metanol.

“Gejala keracunan yang muncul mula-mula berupa mual, muntah, rasa kantuk, vertigo, mabuk, gastritis, diare, sakit pada punggung dan lembab pada anggota gerak. Setelah itu, dalam periode enam hingga 30 jam, penderitanya bisa mengalami gangguan penglihatan, kebutaan permanen, kejang, koma, gagal ginjal akut hingga kematian,” ujarnya.

Sementara, menurut data yang ada di Dinas Kesehatan Minahasa, ada total 16 korban diduga akibat miras oplosan. Dari 15 korban ini, sembilan dinyatakan meninggal dunia setelah dirawat, dan enam lainnya mengalami kebutaan dan masih dalam perawatan.

“Untuk enam orang yang masih dirawat, yakni empat di RSU Siloam Sonder, satu di RS Budi Setia Langowan dan satu lagi di RSUP Prof Kandou,” pungkasnya.

Terpisah, Direktur RSU Siloam Sonder dr Daud Kiroyan MKes mengatakan, pihak RS telah berusaha melakukan tindakan penyelamatan. “Sampai saat ini kami pihak Rumah Sakit terus berupaya untuk menyelamatkan nyawa korban. Beberapa tindakan sudah kami upayakan. Para korban mulai masuk di RSU sekira mulai tanggal 29 April,” ujarnya(fernando lumanauw)

Tinggalkan Balasan