Manado – Di Kabupaten Minahasa Utara dan Kota Bitung, suasana pagi Selasa, 4 November 2025, terasa lebih hidup di beberapa sekolah menengah.
Para siswa kelas XII mempersiapkan diri mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang digelar sebagai bagian dari rangkaian penilaian menjelang ujian akhir sekolah tahun depan.
Meski ada tantangan kecil, semangat para peserta dan dukungan dari para guru menjadi kunci kelancaran acara ini.
Jeffry Runtuwene, Sekretaris Dikda Sulawesi Utara sekaligus Plt Kepala Cabang Dinas Dikda di Minut-Bitung, tampak serius memantau pelaksanaan TKA di SMK Negeri 1 Airmadidi.
“Hari ini semua berjalan lancar. Memang ada listrik padam sebentar, tapi itu tidak mengganggu proses ujian,” ujarnya sambil memperhatikan barisan siswa yang tekun mengerjakan soal di depan layar komputer.
Runtuwene menjelaskan, keterbatasan komputer di beberapa sekolah justru diatasi dengan sistem tiga sesi, sehingga tidak mengurangi kualitas ujian.
Di SMK Negeri 1 Airmadidi, Kepala Sekolah Deivi Matindas terlihat bicara hangat dengan beberapa guru dan siswa.
Ia mengungkapkan kebanggaannya karena “semua siswa, termasuk yang sedang magang, ikut serta dalam TKA. Ini bukti bahwa mereka serius menghadapi masa depan.”
Deivi menambahkan, pada hari kedua ini, seluruh 411 siswa hadir penuh, menyadari pentingnya tes untuk mengukur kemampuan mereka selama belajar.
Sementara itu, di SMA Negeri 1 Airmadidi, para siswa juga berbagi cerita. Seorang siswa yang enggan disebutkan namanya mengatakan, “Soal TKA ternyata sudah kami pelajari sebelumnya. Kami juga sudah berlatih dengan serius dan menjaga kesehatan agar tetap fokus.”
Kepala sekolah Cherly Matheus mendampingi siswa dengan cermat, memastikan tidak ada kendala teknis walau ada pemadaman listrik sesaat.
“TKA adalah momen penting yang kami gunakan untuk melihat seberapa jauh siswa memahami materi.”
Di kota Bitung, suasana TKA tak kalah dinamis. SMA Negeri 2 yang berakreditasi A, di bawah kendali Kepala Sekolah Maxy Awondatu, telah menyiapkan genset khusus sehingga listrik tidak lagi jadi penghalang.
Maxy mengungkapkan harapannya, “Nilai TKA akan menjadi tolok ukur bagi perbaikan kualitas belajar jelang ujian akhir tahun depan.”
Sementara itu, di SMK Negeri 1 Bitung, Drs Christo Lewan berbagi cerita tentang siswa yang berasal dari luar daerah, seperti Palu dan Gorontalo, yang ikut magang di kota ini sekaligus mengikuti TKA.
“Kami percaya latihan pengayaan yang rutin membekali mereka untuk menghadapi tes ini,” kata Christo dengan nada optimis.
Seluruh perjalanan TKA ini bukan sekadar soal angka dan nilai, tapi juga tentang dedikasi, persiapan, dan keyakinan para siswa untuk menghadapi masa depan.
Para pendidik dan pejabat pendidikan berharap pengalaman ini menjadi pembelajaran berharga yang memperkuat mental dan kemampuan akademik siswa terutama dalam mewujudkan visi misi Gubernur dan Wagub, Yulius Selvanus dan Victor Mailangkay.




















