Manado – Penurunan harga bawang putih pada bulan April 2013 memicu Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) alami deflasi sebesar 0,56 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, Dantes Simbolon mengatakan penurunan harga bawang putih memberikan andil sebesar O,4005 persen sehingga mengalami deflasi.
“Penurunan harga bawang putih paling berpengaruh dari Rp60.000 per kilogram menjadi Rp20.000 per kg,” kata Simbolon.
Dikatakan Simbolon, selain bawang putih yang mengalami penurunan harga juga cabe rawit memberikan andil 0,3333 persen, tomat sayur 0,1978 persen, emas perhiasan 0,0714 persen, telur ayam 0,0673 persen, buncis 0,0432 persen, lemon cina 0,0396 persen, mujair 0,0342 persen dan daun batang 0,0342 serta wortel 0,0273 persen.
Lanjut ia katakan, deflasi terjadi karena adanya penurunan indeks pada dua kelompok pengeluaran.
“Kelompok bahan makanan turun sebesar 2,27 persen dan kelompok sandang 0,11 persen,” katanya.
Sedangkan kelompok lain yang mengalami kenaikan, katanya kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,59 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,02 persen, kelompok kesehatan 0,28 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi, olahraga 0,08 persen serta kelompok transpor, komunikasi, jasa keuangan 0,32 persen.
Katanya, komoditi yang mengalami kenaikan antara lain bawang merah, pisang, seragam sekolah anak, kembang kol, nasi, cakalang asap, angkutan udara, rokok kretek filter, rokok putih dan sepeda motor.
Ditambahkannya, laju inflasi tahun kalender Kota Manado sebesar 1,77 persen dan 28 kota IHK mengalami inflasi dan 38 kota alami deflasi.
“Tujuh kota di Pulau Sulawesi mengalami deflasi dan hanya dua kota yang inflasi,” pungkasnya.














