
Diskusi BI dengan wartawan Sulut
Manado–Bank Indonesia menghimbau kepada masyarakat untuk merawat uang dengan baik menyusul
biaya dan bahan yang digunakan cukup mahal.
Kepala Tim Grup Kebijakan Pengedaran uang Departemen Pengedaran Uang Bank Indonesia
Sithowati Sandrarini mengatakan, Bank Indonesia akan mengganti uang yang rusak dan
memusnahkan uang yang lusuh dan yang sudah dicoret-coret.
Aksi mencoret-coret uang atau merusak uang secara sengaja sangat tidak dianjurkan karena
proses pembuatan suatu mata uang rupiah mulai dari desain hingga sampai kepada masyarakat
membutuhkan waktu dua tahun.
“Kalau masalah banjir, begitu uang masuk dalam sistem perbankan akan kami ganti dengan
yang baru. Namun, yang lusuh dan dicoret kami akan musnahkan,” ujarnya dalam Media
Gathering bersama Wartawan Ekonomi Sulawesi Utara di Jakarta.
Sebelumnya, masyarakat sempat ramai dengan beredarnya uang pecahan, seperti pecahan
Rp50.000 dan Rp100.000 yang terdapat cap dengan tulisan ‘Prabowo Satria Piningit Heru
Cakra Ratu Adil’. Sithowati memastikan uang itu akan segera dimusnahkan karena uang itu
masuk dalam kategori rusak.
Dia juga mengatakan, mata uang rupiah dicetak dengan teknik khusus dan dilengkapi dengan
15 fitur pengaman untuk meminimalisir pemalsuan uang. Hingga November 2013, Bank Indonesia
mencatat angka pemalsuan uang terus menurun dengan perbandingan 8 per 1 juta lembar.
Lebih lanjut dia menjelaskan, untuk mengantisipasi minimnya peredaran uang, Bank Indonesia
memiliki kas minimum hingga delapan bulan ke depan. Kas tersebut tersebar di semua kantor
perwakilan Bank Indonesia yang ada di seluruh provinsi, dengan maksud membantu
ketersediaan uang hingga ke pelosok negeri.
“Misalnya, Perum Peruri punya masalah dalam mencetak uang, Bank Indonesia takkan
kesulitan,” ujarnya.(nancy)




















