Kemenlu Perkuat Komoditi Unggulan Sulut ke Afrika

Manado – Kementerian Perdagangan Luar Negeri (Kemenlu) terus memperkuat pasar ekspor  komoditi unggulan Sulawesi Utara (Sulut) ke Afrika.


Direktur Afrika Kementerian Perdagangan Luar Negeri,  Lasro Simbolon mengatakan para pelaku usaha daerah di Sulawesi Utara menyampaikan kesiapan mereka untuk masuk ke pasar Kawasan Afrika. 


“Memang saat ini Sulut sudah melakukan ekspor komoditi pangan dan rumah adat ke Benua Afrika, dan akan terus dioptimalkan,” kata Lasro kepada Cybersulutnews.co.id disela-sela Roundtable Discussion, Penguatan Promosi Keunggulan Daerah Sulawesi Utara Dalam Rangka Optimalisasi Pemanfaatan Potensi Ekonomi Afrika Sub-Sahara di Kota Manado.


Katanya, di Sulut mereka mengandalkan tiga sektor unggulan Sulawesi Utara yaitu perkebunan, pertanian, perikanan serta pariwisata. 


“Namun demikian kerjasama dan dukungan pemerintah pusat sangat diharapkan para pemangku kepentingan di daerah.”

 

Direktur Afrika menegaskan Kemlu terus melakukan langkah-langkah revitalisasi diplomasi RI dengan Afrika. “Ini dilaksanakan dengan mentransformasikan hubungan politik dan kesejarahan yang terjalin dengan baik kepada kerjasama ekonomi, perdagangan, investasi dan sosial budaya yang saling menguntungkan,” katanya. 


Dijelaskan bahwa Kawasan Afrika merupakan pasar yang besar bagi produk-produk Indonesia. Kawasan Afrika memiliki penduduk 1 milyar lebih dengan GDP kolektif lebih dari USD 2 trilyun (2012). Selain itu menurut McKinsey Institute consumer spending kawasan tersebut diperkirakan akan mencapai USD 1,4 trilyun pada 2020. Nilai perdagangan bilateral Indonesia dan Afrika selama 3 tahun terakhir terus mengalami peningkatan dari US$ 6M tahun 2010 menjadi hampir US$ 12M pada tahun 2012. 


Sementara itu, Veeramalla Anjaiah menggarisbawahi bahwa benua Afrika menawarkan banyak peluang kerjasama perdagangan dan investasi di berbagai sektor. Sudah saatnya pelaku usaha Indonesia lebih berani masuk ke Afrika. 

Berbagai terobosan dan langkah inovatif oleh Kemlu kiranya dapat didukung oleh semua sektor pemangku kepentingan termasuk instansi teknis, perbankan dan daerah.


Selama diskusi, terlihat optimisme para peserta diskusi untuk mempromosikan produk unggulan daerah seperti hasil perkebunan, pertanian, perikanan serta pariwisata, di kawasan Afrika lainnya meski masih terdapat beberapa tantangan dalam menjalin kerja sama dengan negara-negara di kawasan. 


Hal ini seiring dengan adanya trend positif pada nilai ekspor daerah Sulawesi Utara ke Kawasan Afrika dalam beberapa tahun belakangan walaupun jumlahnya belum terlalu besar. Nilai ekspor Sulawesi Utara khususnya dua komoditas utama (tepung kelapa dan pala) ke Afrika pada tahun 2012 mencapai USD 558.460,- dan terdapat potensi untuk meningkatkan angka tersebut dimasa mendatang. 

“Selain dua komoditas diatas, Sulawesi Utara juga telah mengekspor rumah adat ke Tanzania,” jelasnya.


Afrika masih memiliki potensi ekonomi yang besar dan Indonesia harus mengambil manfaat potensi tersebut. Untuk itu, diskusi menyimpulkan bahwa upaya-upaya harus dilakukan guna meningkatkan ekspor komoditi produk Indonesia ke Afrika, khususnya Sulut dengan terus meningkatkan daya saing produk unggulan baik dari segi kualitas maupun efisiensi produksi. Selain itu, partisipasi aktif dalam berbagai event promosi/pameran perdagangan ke luar negeri serta koordinasi dengan berbagai stakeholder baik di dalam maupun di luar negeri senantiasa harus ditingkatkan.


Bertindak sebagai nara sumber dalam roundtable discussion tersebut adalah Lasro Simbolon, Direktur Afrika, Ditjen Aspasaf Kemlu; Bapak Victor Marsabessy Wakil Ketua KADINDA Sulawesi Utara; Ibu Feby Karambut, Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulawesi Utara; serta Veeramalla Anjaiah, wartawan senior pengamat Afrika dari The Jakarta Post. Peserta umumnya diskusi berasal dari kalangan pengusaha dan akademisi Sulawesi Utara.


Acara roundtable discussion diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri c.q. Direktorat Afrika, dilakukan sebagai bagian dari upaya Kementerian Luar Negeri menggalang stakeholders daerah untuk menembus pasar-pasar non-tradisional seiring terjadinya krisis ekonomi yang melanda di beberapa kawasan pasar tradisional RI.(Nancy tigauw)

Tinggalkan Balasan