Layak Disimak, Surat Gembala Pendeta David Tulaar Jelang Pemilihan Penatua dan Diaken GMIM

Dari pribadi Pdt. David Tulaar, kepada seluruh anggota sidi di jemaat-jemaat Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM)

Hal: Pendampingan Pastoral Menjelang Pemilihan Penatua dan Diaken di Jemaat-jemaat GMIM, 16 dan 18 Oktober 2026

Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus, Kepala Gereja dan Tuhan dunia.

Menjelang tanggal 16 dan 18 Oktober 2026, seluruh anggota sidi di jemaat-jemaat semua diajak untuk melangkah bersama dalam sebuah peristiwa iman yang penting: Pemilihan Penatua dan Diaken di seluruh jemaat GMIM.

Peristiwa ini bukanlah panggung kontestasi politik, melainkan sebuah pesta berjemaat—sebuah perayaan iman dalam rangka mewujudkan tugas panggilan koinonia (persekutuan) yang dianugerahkan Tuhan bagi kita.

Melalui Surat Gembala ini, saya sebagai pribadi pendeta menyapa seluruh warga jemaat untuk merenungkan kembali hakikat dari gereja, panggilan pelayanan, dan makna pemilihan yang akan dilaksanakan ini.

1. Jemaat: Gereja yang Nyata dan Kelihatan

Meneladani pandangan reformatoris Yohanes Calvin, jemaat lokal adalah gereja yang sesungguhnya—inilah gereja yang kelihatan (ecclesia visibilis). Di sinilah tempat Firman Allah diberitakan dengan murni dan sakramen-sakramen dilayankan dengan benar.

Lebih dari itu, di dalam jemaat dan lewat kolom-kolom yang ada seluruh panggilan gereja untuk bersekutu (koinonia), bersaksi (marturia), dan melayani (diakonia) nyata setiap hari. Panggilan ini tidak hanya diwujudkan lewat ibadah ritual yang berlangsung sepanjang minggu di jemaat, melainkan lewat interaksi kehidupan nyata yang menjaga agar kebaikan tetap menjiwai kebersamaan jemaat.

Setiap jemaat sesungguhnya harus merindukan tatanan hidup berjemaat seperti dalam Kisah Para Rasul 2, di mana kasih dipraktikkan sedemikian rupa sehingga “tidak ada yang kekurangan di antara mereka.”

2. Penatua dan Diaken: Fungsi Pelayanan, Bukan Jabatan Gerejawi

Dalam semangat ini, mari kita meluruskan kembali cara pandang kita: Penatua dan Diaken bukanlah jabatan gerejawi, melainkan fungsi-fungsi pelayanan gerejawi.

* Fungsi Penatua: Menjaga keutuhan kolom yang memberi kontribusi langsung pada keutuhan jemaat. Penatua memelihara hubungan timbal-balik warga kolom agar saling peduli, saling memperhatikan, serta menjauhkan persekutuan dari gosip, iri hati, dan kepentingan diri sendiri.

* Fungsi Diaken: Menjaga keseimbangan kesejahteraan seluruh anggota kolom, yang pada gilirannya menopang kesejahteraan seluruh jemaat secara utuh dan adil.

Mungkin cara-cara dunia telah mempengaruhi pemahaman kita selama ini. Di mata masyarakat umum, Penatua dan Diaken sering diidentikkan sebagai “jabatan” yang berkonotasi pada kedudukan, status, dan kehormatan. Namun, panggilan Kristiani tidaklah demikian. Panggilan Penatua dan Diaken tidak boleh dilepaskan dari tugas koinonia gereja.

3. Imamat Am Orang Percaya dan Panggilan Khusus Melayani para Pelayan Umum

GMIM berdiri kukuh di atas paham Imamat Am Orang Percaya. Berdasarkan refleksi Perjanjian Lama, seorang imam adalah pelayan Tuhan sekaligus pelayan umat. Paham ini menegaskan bahwa setiap anggota jemaat—setiap orang percaya—adalah imam, yaitu pelayan Tuhan dan pelayan sesama.

Oleh karena itu, pemilihan Penatua dan Diaken sejatinya adalah untuk mengisi fungsi pelayanan yang khusus terhadap para pelayan umum, yaitu seluruh jemaat itu sendiri.

Dengan menerima panggilan untuk mengisi fungsi pelayanan khusus ini, Penatua dan Diaken bukanlah “naik pangkat”, melainkan justru “turun pangkat” menjadi pelayannya para pelayan (servus servorum).

Setiap pribadi yang memberi diri untuk dipilih harus menyadari dan merendahkan hati di hadapan kedudukan pelayanan ini di tengah jemaat.

4. Menjaga Kesopanan dan Ketertiban Pelayanan

Sebagaimana nasihat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, orientasi bergereja kita tidak lain adalah untuk menjaga supaya “segala sesuatu berlangsung sopan dan teratur” (1 Korintus 14:40).

Bagi jemaat di Korintus dahulu, nasihat ini menjadi orientasi hidup dan kompas bersama di tengah berbagai dinamika serta pergumulan yang ada. Nasihat yang sama menjadi petunjuk arah bagi kita hari ini: menjaga agar perahu/kapal jemaat GMIM tetap berlayar menuju kehendak Kristus.

Himbauan Pastoral bagi Seluruh Jemaat

1. Berdoalah dan Bergumullah: Bawalah proses pemilihan tanggal 16 dan 18 Oktober 2026 ini dalam doa-doa pribadi, keluarga, dan kolom.

2. Jauhi Semangat Duniawi: Hindarilah persaingan yang saling menjatuhkan, kubu-kubuan, gosip, serta kompromi yang merusak keutuhan persekutuan.

3. Sambut Panggilan dengan Kerendahan Hati: Bagi setiap warga jemaat yang dipercayakan dan terpilih, sambutlah itu sebagai kesempatan untuk merendahkan diri dan melayani sesama “imam” di dalam Kristus.

Dan mari bersama kita naikkan doa:

“Kirimkanlah Roh Kudus-Mu, ya Tuhan, untuk menuntun seluruh jemaat-Mu dalam memilih pelayan-pelayan yang berhati hamba.”

Salam dan doa,
Pdt. David Tulaar

13 Oktober 2026
#pendapat_dht

Tinggalkan Balasan