Manado – Halal bihalal pasca perayaan Idul Fitri 1446 H digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara (BI Sulut), Kamis (24/4/2025). Kegiatan ini dirangkaikan dengan diseminasi outloook perekonomian yang bertemakan ‘menjaga optimisme menuju Sulawesi Utara maju, sejahtera, dan berkelanjutan’.
BI mengundang perwakilan stakeholder dari pemerintah daerah, kementerian dan lembaga, asosiasi, akademisi, pelaku usaha, dan media di kegiatan ini.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulut Andry Prasmuko menyampaikan kondisi perekonomian global, nasional dan Sulut, yang dilanjutkan dengan outlook pertumbuhan ekonomi dan inflasi tahun 2025 dan 2026. Ia menyebut dari Sisi pertumbuhan ekonomi, pada tahun 2024 Sulut (5,39%, yoy) tumbuh lebih tinggi dibandingkan Nasional (5,03%, yoy).
“Pertumbuhan tersebut didorong tingginya peran konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor. Hal ini sejalan dengan pangsa kredit Sulut yang didominasi kredit konsumsi dibandingkan jenis lainnya. Lebih lanjut, kebijakan pemotongan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75% pada bulan Januari 2025 telah diikuti dengan penurunan suku bunga Kredit Modal Kerja dan Kredit Investasi perbankan Sulut,” urai Andry.
“Pemerintah daerah sangat optimis Sulut akan makin maju, sejahtera dan berkelanjutan,” kata Andry.
Dia mengatakan saat ini ekonomi dunia pada 2025 diperkirakan bertumbuh sebesar 2,9 persen.
Tingkat inflasi global sebesar 3,7 persen terutama penurunan inflasi yang telah mulai stabil sejak akhir tahun 2023.
Kebijakan suku bunga, katanya, sampai dengan tahun 2026 cenderung longgar dengan disertai pemotongan suku bunga terutama negara berkembang baik di Amerika Latin (latam), Eropa, dan Asia untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkualitas.
Begitu pula, katanya, dengan kinerja perekonomian nasional pada Tahun 2024 didorong oleh menguat industri Pengolahan dan Konsumsi RT Ekonomi Indonesia pada tahun 2024 tumbuh sebesar 5,03 persen (yoy).
Adapun dari Sisi lapangan usaha, ekonomi Sulut ditopang sektor pertanian dan perdagangan. Pada tahun 2025, diprakirakan Sulut akan tumbuh di kisaran 5, 1-6,1% dan 5,2-6,2% untuk tahun selanjutnya.
“Pertumbuhan akan didorong oleh sektor perdagangan, pertanian, serta transportasi. Berkenaan perubahan harga, pada bulan Maret 2025 terjadi inflasi dibandingkan bulan sebelumnya yang diakibatkan berakhirnya subsidi tarif listrik secara nasional disertai kenaikan harga komoditas cabai rawit dan tomat,” katanya lagi.
Meskipun demikian, inflasi Sulut masih dalam sasaran target nasional. Inflasi di Sulut pada tahun 2025 dan 2026 diprakirakan masih akan terjaga pada rentang 2,5% ± 1% seiring penguatan ekosistem pangan melalui Program Swasembada Pangan serta peningkatan ketahanan pangan strategis melalui rangkaian program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).
Sementara, Pada kesempatan tersebut, terdapat penyampaian pendapat dan insight yang disampaikan oleh Bapak Erwin Situmorang selaku Kepala Kantor Wilayah DJBC Sulawesi Bagian Utara; lbu Elvira Katuuk selaku Kepala Bappeda Sulut; Bapak Sahril Salim selaku Director of Sales & Marketing dari Hotel Fourpoints Manado; Bapak Donald Parayow dari PT. Hasjrat Abadi; dan Bapak Nikolas Fajar dari Universitas Negeri Manado.
Pendapat yang disampaikan menyuarakan optimisme pertumbuhan ekonomi di tengah tantangan ekonomi global. Upaya yang dapat dilakukan oleh masing-masing stakeholder dalam mendukung pertumbuhan ekonomi di Sulut dapat dilakukan melalui akselerasi investasi baik yang berasal dari PMA maupun PMDN.
Adapun modal eksisting yang dimiliki juga perlu dioptimalisasi, utamanya pelabuhan dan bandar udara yang telah berskala internasional serta ketersediaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Bitung dan Likupang.
Kepala Bapeda Sulut Elvira Katuuk mengatakan Pemerintah Sulut cukup optimis ekonomi akan tumbuh di atas nasional tahun 2025, karena potensi masih sangat besar.
Pemerintah daerah hal ini Gubernur Sulut Yulius Selvanus dan Wakil Gubernur Victor Mailangkay memiliki visi dan misi sejalan dengan pemerintah pusat.
Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Sulut tahun 2025 ini, ada tiga sektor yang utama yakni sektor pertambangan, pertanian dan pariwisata.





















