Minahasa – Warga Desa Teep, Kecamatan Langowan Timur, Kabupaten Minahasa, Sabtu (14/02) siang, sekitar pukul 11.00 Wita, digemparkan dengan ditemukannya sosok mayat perempuan yang teridentifikasi bernama Serly Kolanus (34), warga Desa Sendangan, Kecamatan Kakas.
Mayat tersebut ditemukan warga Desa Teep di saluran air perkebunan Sinoitan, dengan keadaan tidak utuh atau sudah membusuk.
Ditemukannya mayat Serly Kolanus yang sudah tiga bulan dinyatakan menghilang oleh pihak keluarga ketika beberapa warga asal Desa Teep mencari udang di perkebunan tersebut, mereka pun kemudian mencium bau busuk disekitaran sungai.
Penasaran dengan bau yang sangat menyengat itu, mereka kemudian mencari dimana letak bau menyengat yang sudah tercium dari jarak 15 meter. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat ternyata bau menyengat itu adalah mayat perempuan yang sudah busuk dan sudah tidak dapat dikenali.
“Awalnya kita pikir kalau bau itu adalah bau binatang yang mungkin hanyut terbawa arus. Tapi kita penasaran karena baunya yang sangat menyengat, kita pun kemudian mencari dan benar ternyata bau tersebut adalah mayat manusia yang sudah busuk,” kata salah satu saksi mata yang meminta namanya untuk tidak dipublikasi ketika dikonfirmasi Cybersulutnews.co.id.
Mereka kemudian melaporkan kejadian itu ke masyarakat dan pihak polisi. Mendapat laporan dari masyarakat, Polsek Langowan yang dipimpin langsung Kapolseknya, AKP S.R Pandelaki kemudian menuju lokasi kejadian dan melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).
“Kami sudah melakukan olah TKP. Ditubuh korban tidak terdapat tanda-tanda kekerasan. Ketika ditemukan korban langsung dikenali oleh keluarganya. Saat ini korban sudah kita serahkan ke keluarganya untuk disemayamkan,” beber AKP Pandelaki kepada Cybersulutnews.co.id.
Ditambahkan Pandelaki, keluarga korban tidak mengijinkan polisi untuk melakukan otopsi kepada jenasah. Sedangkan kata Pandelaki, Korban sendiri dinyatakan hilang sejak November 2014 hingga kemudian ditemukan tewas di saluran air perkebunan Sinoitan Desa Teep, Kecamatan Langowan Timur.
“Berdasarkan informasi yang kita terima, korban mengalami gangguan kejiwaan. Keluarga korban sendiri tidak mengijinkan jenasah korban untuk diotopsi,” ungkap kapolsek yang dikenal akrab kalangan pers ini. (jenglen manolong)




















