Manado – Salah satu pelaku industri pariwisata yang juga owner Safari Tour Jeremy Barnes membeber permasalahan utama pariwisata di Sulut yakni, sampah. Ini disampaikannya dalam Media Gathering digelar Biro Protokol dan Humas Setdaprov Sulut, Rabu (6/11/2019) di kantor Gubernur Sulut.
Ia mengatakan, mebuang sampah ke tempat sampah belum juga jadi budaya. Sampah seperti sah-sah saja diletakkan di pojokan, bersama tumpukan sampah yang terlebih dulu tercipta. Apalagi mengantongi dulu bungkus makanan sebelum menemukan tempat sampah adalah hal yang mustahil.
Berdasarkan penelusurannya di sejumlah kantor pemerintah bahkan ia temui tumpukan sampah di sudut atau belakang bangunan kantor. Belum lagi dijumpai toilet yang kotor.
“Semakin terasa parahnya urusan sampah ini ketika kita berwisata ke pantai. Di situ akan dijumpai kemasan minuman, kantong plastik, puntung rokok, sampai kasur yang mendarat setelah berhari-hari, atau berbulan-bulan, terapung-apung di laut,” ungkapnya.
Diungkapkannya, pemerintah belum mampu menciptakan regulasi yang mumpuni untuk mengatasi masalah sampah di Sulawesi Utara.
Selain masalah sampah, Jeremy juga mengaku prihatin terhadap objek wisata Bukit Kasih Kanonang sudah tak terawat. Padahal destinasi tersebut masuk dalam paket wisata.
“Tentu saja keadaan ini sangat kami sesalkan sebab destinasi Bukit Kasih Kanonang merupakan aset yang harus dipertahankan,” ujarnya.
Kepala Dinas Pariwisata Pemprov Sulut Daniel Mewengkang mengakui, secara umum pembangunan sektor pariwisata belumlah maksimal. Pasalnya dapat dilihat dari minimnya SDM dan fasilitas penunjang kepariwisataan itu sendiri.
Namun ia mengaku, Dinas yang ia pimpin dalam hal ini, terus berupaya untuk mengoptimalkan pembangunan sektor pariwisata sesuai harapan pemerintah OD-SK.
Terkait Bukit Kasih Kanonang, Mewengkang mengungkapkanbahwa perawatan dan pembenahannya telah dianggarkan pada 2020 mendatang.
“Dananya sudah ada, tinggal kita realisasikan tahun depan,” tukasnya.
“Saya berupaya secara maksimal untuk berbenah dalam meningkatkan pariwasata, fasilitas serta pemantapan SDM pada tahun 2020 nanti. Tata niaga pariwisata sementara di tata dan beberapa hal menjadi pekerjaan rumah (PR) dari Dispar Sulut, seperti Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Provinsi Sulut (RIPPARPROV) tahun 2020,” tandasnya.
Diketahui diskusi tersebut hadir Kepala Dinas Pariwisata Sulut Daniel Mewengkang, Ketua ASITA Sulut Merry Karouwan, General Manager Sintesa Peninsula Hotel Manado I Putu Anom Dharmaya, serta pelaku pariwisata Sulut Jeremy Barnes, Plt Karo Protol dan Humas Setdaprov Sulut Dantje Lantang dan dipandu moderator Kabag Humas Setdaprov Sulut Christian Iroth serta Jurnalis Independen Pemprov Sulut



















