Manado – Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) menggenjot ekspor non migas melalui diversifikasi pasar.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulut, Olvie Atteng mengatakan perlu ada sinergitas antar instansi terkait maupun akademisi
Diskusi ini difasilitasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut, Senin (09/09) kemarin.
Diskusi ini pun dengan moderator Dra Marieta Kuntag, dan pembicara Prof Charles Kepel dari Kapet dan DR Ellen Pakasi dari akademisi.
Menurut Kepel, komoditas ekspor Sulut ke depan dapat memanfaatkan fasilitas seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang tak lama lagi akan dibangun di Kota Bitung.
“Jika KEK sudah ada maka Sulut dapat mengekspor langsung komoditinya,” ungkap Kepel.
Sementara menurut Pakasi, klaster kelapa di Sulut harus dikembangkan untuk mendukung komoditi ekspor tersebut.
“Klaster kelapa dan industri kelapa terpadu di Sulut merupakan salah satu langkah yang akan diambil pemerintah daerah dalam upaya menjadikan kelapa sebagai sumber pendorong ekonomi daerah ini,”paparnya.
Akan halnya Marieta Kuntag mengatakan, produk turunan kelapa di Sulut sangat banyak. Seperti kopra putih, yang belum dimanfaatkan petani karena kendala peralatan seperti tungku.
“Perusahaan diluar negeri menginginkan agar kopra putih diekspor dalam jumlah banyak, sementara produksi petani Sulut sangat minim. Ini yang menjadi masalah,” ungkapnya.
Lain halnya dengan produk nata de coco, menurut Kuntag, bahan bakunya sangat banyak di Sulut. Tapi tidak dimanfaatkan. “Di tempat lain air kelapa sebagai bahan baku nata de coco dibeli, tapi kita di Sulut hanya dibuang. Kenapa kita tidak kembangkan produk itu?,” papar Kuntag.
Sementara Kepala Disperindag Sulut Olvie Atteng mengatakan, diskusi komoditi ekspor Sulut ini sangat penting, untuk mencari masukan dari pakar ekonomi dan kalangan akademisi. “Dengan begitu, komoditi ekspor Sulut akan semakin banyak dan berkualitas,”paparnya.(Nancy tigauw)




















