
Manado – Aktifitas manusia modern dewasa ini, memacu produksi gas CO2 diudara dan rumah kaca sebagai salah satu pembawa dampak meningkatnya suhu permukaan bumi. Hal ini disampaiakn Gubernur Sulut Sinyo Harry Sarundajang (SHS), pada acara Internasional Blue Carbon Symposium di gedung Manado Convention Center (MCC), Kamis (15/05/2014).
Menurut SHS, perubahan iklim yang sangat ekstrim di bumi mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya sehingga mengurangi kemampuan untuk menyerap karbon dioksida di atmosfir.
Dikatakannya, pemanasan global juga yang mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub, menimbulkan naiknya permukaan air laut, sehingga air laut mengembang dan terjadi kenaikan permukaan air laut.
Hal ini mengakibatkan negara kepulauan mendapat pengaruh sangat besar dan semua itu terjadi karena efek dari rumah kaca yang membawa dampak terjadinya pemanasan global, perubahan iklim bumi, tumbuhan yang tidak dapat beradaptasi punah, rantai makanan terganggu dan akhirnya manusia sebagai konsumen tertinggipun akan punah.
“Untuk itu, mari kita sama-sama cegah pemanasan global,”ajak SHS.
SHS mengharapkan, digelarnya acara International Blue Carbon Symposium ini dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi upaya pelestarian ekosisten laut dalam kaitannya dengan Blue Carbon.
”Kegiatan ini dapat mencegah dan mempromosikan restorasi laut yang merupakan alat penting yang dapat digunakan untuk mitigasi perubahan iklim dan penurunan habitat tanaman Bakau, Padang Lamun dan Rawa Asin diberbagai tempat dapat dicegah agar bisa menyerap carbon oleh karena itu perlu mendapat perhatian kita bersama,” ingat SHS.




















