by

Barang Bukti Sidang di PN Tondano Diduga Hilang, Tujuwale Tindaklanjuti Laporan ke Polda Sulut

Manado – Audy Alexander Tujuwale SH, Kuasa Hukum JL alias Epi (52), terus menindaklanjuti kasus dugaan hilangnya barang bukti dalam perkara pidana nomor 97/PID.B/2020/PN.TNN, saat persidangan masih berlangsung atau belum ada putusan di Pengadilan Negeri (PN) Tondano.

Menurut Tujuwale, dugaan hilangnya barang bukti tersebut sebelumnya telah diadukan ke Kapolda Sulawesi Utara (Sulut), melalui Bagian Propam Polda Sulut dan Irwasda Polda Sulut pada 5 Februari pekan lalu, oleh Tujuwale.

“Pada tanggal 5 Februari lalu, dugaan hilangnya barang bukti ini sudah kami adukan secara resmi ke pak Kapolda. Hari ini (Senin/15/02, red) kami menindak lanjuti aduan tersebut, sudah sejauh mana prosesnya,” kata Tujuwale, yang keseharian sebagai Ketua Departemen Hukum Manguni Indonesia Minahasa, didampingi rekannya Ronald Aror SH dan Zulfikar SH

Lanjut kata Tujuwale, aduan pihaknya telah ditanggapi dengan baik oleh Polda Sulut dan berjanji akan segera menindaklanjuti laporan tersebut. “Jawabannya, sudah dalam penanganan,” ujarnya.

Akan hal ini, Kepala Sub Bagian Aduan Masyarakat dan Pengawasan (Dumasanwas) Polda Sulut, Kompol Suparno SSos, melalui staf di ruangannya menyampaikan bahwa, pihaknya pasti akan menindaklanjuti aduan ini.

“Aduan akan kita tidak lanjuti, nanti sudah sampai sejauh mana proses itu akan kami sampaikan,” pungkasnya.

Sementara, pihak Kuasa Hukum JL alias Epi juga mendapati adanya beberapa bukti terkait hilangnya barang bukti dalam perkara tersebut yakni 13 dari 14 unit Panel Lampu Sollar Cell Type SW-ISL701-40W dan tiang lampu Solar Cell bersama kelengkapannya.

“Ada bukti surat tanda terima yang kami pegang, yang kami duga dibuat oleh oknum penyidik ke pelapor perempuan bernama Leony. Namun, surat tanda terima itu tidak mencantumkan nomor dan cap dari pihak Polres Minahasa. Kami juga sudah ke Kejati Sulut dan mereka berjanji memproses aduan kami,” ungkap Tujuwale.

Sebelumnya diberitakan, Kuasa Hukum JL alias Jeffry (52), sebagai terdakwa dalam perkara pidana nomor 97/PID.B/2020/PN.TNN, yakni Audy Tujuwale SH, mengadu ke Pengadilan Negeri (PN) Tondano.

Hal ini tertuang dalam dokumen duplik yang disampaikan dalam persidangan yang berlangsung, Selasa (09/02) pagi.

Usai sidang, kepada wartawan Cybersulutnews.co.id, Tujuwale selaku Kuasa Hukum Jeffry menjelaskan, dimana dalam perkara tersebut kliennya sebelumnya pernah meminjam uang kepada perempuan bernama Leony Liontin Mongi, warga yang sama dengan kliennya. Hanya saja, kliennya belum bisa menyanggupi mengembalikan uang pinjaman tersebut karena terkendala kemampuan ekonomi.

Karena belum juga bisa melunasi hutang secara keseluruhan, dia lalu dilaporkan ke Polres Minahasa dengan tuduhan melakukan penipuan dan penggelapan uang oleh Leony, yang berujung di sidang PN Tondano, yang padahal sebelumnya Leony sudah terlebih dahulu melayangkan somasi penagihan hutang selama tiga kali.

Kata Tujuwale, yang membuat dirinya keberatan dan mengajukan pengaduan ke PN Tondano adalah bahwa, saat ini perkara dia masih dalam persidangan, yang masih pada tahap Jawab Menjawab antara Jaksa Penuntut Umum (JPU) dengan penasihat hukumnya, namun pada 12 Januari 2021 lalu, barang bukti dalam perkara tersebut berupa berupa 14 unit Panel Lampu Sollar Cell Type SW-ISL701-40W dan 14 unit tiang lampu Solar Cell bersama kelengkapannya tinggal satu, sisanya raib entah kemana.

“Kami mempertanyakan soal keberadaan barang bukti yang di pakai sebagai dasar penuntutan oleh JPU yang di mana keberadaannya telah raib entah kemana. Bagaimana bisa JPU menuntut berdasarkan barang bukti yang sudah tidak ada. Maka, sudah sepantasnya perkara ini batal demi hukum,” kata Tujuwale, yang keseharian sebagai Ketua Departemen Hukum Manguni Indonesia Minahasa.

Atas apa yang terjadi pada kliennya ini, Kuasa Hukum Jeffry meminta keadilan yang seadil adilnya, bahkan sampai mengajukan pengaduan atau laporan Kapolda Sulawesi Utara. Sebab, dirinya merasa kliennya diproses hukum secara pidana karena uang pinjaman, padahal perkara ini adalah masalah hutang piutang, sementara barang bukti susah diambil tanpa melalui perintah pengadilan padahal perkaranya belum selesai.

“Dari pengakuan atau hasil konfirmasi dengan penyidik yang menangani perkara ini, yang kami laporkan di Propam Polda Sulut. Barang bukti tersebut telah diserahkan kepada saksi pelapor. Bagaimana bisa klien kami diproses hukum secara pidana dikarenakan hutang, yang notabene barang bukti sudah diserahkan kepada pelapor,” tukasnya.

“Dengan adanya peristiwa ini terhadap klien kami, kami merasa terkesan dikriminalisasi atas suatu peristiwa hukum perdata. Jadi mohon keadilan atas kasus yang sementara bergulir di PN Tondano,” pungkasnya.

Terkait pengaduan ini, Ketua Majelis Hakim La Ode Arsal Kasir SH, yang memimpin sidang mengaskan bahwa, sampai hari ini Pengadilan tidak pernah meminjam pakaikan barang bukti dalam kasus ini. Menurutnya, bila didapati oleh Kuasa Hukum ada peristiwa yang seperti tersebut diatas, maka dirinya mempersilahkan Kuasa Hukum menempuh jalur hukum yang disediakan.

“Kami menegaskan bahwa barang bukti dalam kasus ini tidak pernah kami keluarkan untuk pinjam pakaikan, apalagi menjual barang bukti tersebut. Semisal dari Kuasa Hukum ingin menempuh jalur hukum untuk hal itu, silahkan tempuh sesuai jalur hukum yang berlaku,” ujar Hakim La Ode, disela sela memimpin sidang.(***)

Comment

Leave a Reply

News Feed