Manado – Stabilitas harga pertanian di daerah Sulawesi Utara nyaris tidak pernah terjadi. Harga sangat tinggi di tingkat pedagang tetapi sangat rendah di tingkat petani. Ditengarai hal ini terjadi karena ulah kartel (kelompok produsen independen yang bertujuan menetapkan harga, untuk membatasi suplai dan kompetisi. Berdasarkan hukum anti monopoli, kartel dilarang di hampir semua negara).
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Sulut, Dr Arie Bororing kepada wartawan mengatakan, praktek kartel sudah lama terjadi di daerah Nyiur Melambai. Praktek ini menurutnya sangat merugikan petani.
“Harga yang terjadi di masyarakat sudah tidak wajar. Perbedaannya terlalu jauh antara di tingkat petani dengan konsumen,” katanya.
Dia menilai apa yang terjadi di sektor pertanian saat ini sudah tidak mencerminkan keadailan. Para petani yang telah bersusah payah menghasilakn produk pangan selama berbulan-bulan hanya menikmati keuntungan berkisar 10 hingga 20 persen saja.
Sementara para kartel yang hanya terlibat dalam beberapa jam saja bisa meraih keuntungan di atas 50 persen. Padahal jika terjadi kegagalan panen yang menanggung risikonya adalah para petani.
“Pak Gubernur dan pak Wagub sudah bertekad untuk membenahi rantai tata niaga pertanian termasuk membasmi praktek kartel ini. Pak Wagub kepada kami bahkan mengingatkan agar petani harus diberi kesempatan menikmati keuntungan yang lebih besar lagi. Sebab merekalah yang siang malam menjaga lahannya dengan risdiko kegagalan panen yang cukup tinggi” ungkap Bororing.
Bororing juga menyentil tentang Nilai Tukar Petani Sulut yang turun. Menurutnya, Dinas Pertanian banyak disalahkan atas turunnya NPT Sulut. Padahal menurutnya, Dinas Pertanian dan Peternakan terus berupaya menggenjot produksi pertanian yang berdasarkan data terus naik dari tahun ke tahun. “Turunnya NPT ini tidak melulu kesalahan Distanak tetapi juga banyak disebabkan oleh permainan harga dilakukan kartel,” imbuhnya.
Diketahui, Nilai Tukar Petani (NTP) di Provinsi Sulawesi Utara tahun 2016 turun. Berdasarkan data BPS, pada bulan Meui 2016 sebesar 96,83 persen menurun sebesar 0,65 persen dibanding NTP tahun sebelumnya yaitu sebesar 97,47.




















