
Manado – Adanya dugaan dana pasar murah saat natal dan tahun baru lalu rawan penyimpangan, diklarifikasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut selaku pengelolanya. “Dana pasar murah yakni CSR (Corporate Social Responsibility) masih tersisa dan sekarang tersimpan di bank.
Rencananya kami akan memanggil penyandang dana CSR itu dan akan laporkan penggunaan keuangannya,” ujar Kepala Bidang Dalam Negeri Disperindag Sulut Hanny Wajong. Dijelaskannya, dana CSR dari perbankan dan perusahaan BUMN lainnya, yang masuk ke rekening dana pasar murah Rp687 juta dan yang terpakai hanya Rp512 juta
. “Jadi ada sekitar Rp170 juta yang tidak terpakai dan sekarang masih tersimpan di bank. Dana CSR itu ada tanda terimanya dan kami evaluasi penggunaannya,” tandas Wajong.
Soal dana tersisa itu, lanjut Wajong, pihak Disperindag akan menawarkan pada penyandangnya jika tidak dikembalikan lagi, maka akan digunakan pada kegiatan pasar murah mendatang. “Dengan begitu, kalo dorang (maksudnya penyandang CSR) tarek torang akan kase.
Tapi kalo tidak ditarik lagi, akan digunakan pada kegiatan pasar murah mendatang,” ungkap Wajong. Dijelaskannya, kegiatan pasar murah natal dan tahun baru lalu ada sebanyak 87 titik dan masyarakat sangat berterima kasih dengan kegiatan tersebut. Bahkan Direktur Bahan Pokok Kementrian Perdagangan berterima kasih karena merasa kaget kegiatan pasar murah di Sulut sampai 87 titik.
“Ini pertama kali di Indonesia kegiatan pasar murah sampai 87 titik dan kami melaksanakan pasar murah atas nama pemerintah propinsi bukan disperindag,”papar Wajong.
Sebelumnya diberitakan, dana pasar murah selain memanfaatkan dana CSR perbankan dan lembaga BUMN lainnya, juga menggunakan dana APBD yang disebut-sebut mencapai Rp1 miliar. Dengan demikian, diduga terjadi penyimpangan pemanfaatan dana pasar murah tersebut karena tidak tersalur 100 persen. (nancy)




















