
Manado – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut menggelar pasar murah pada akhir November hingga minggu ketiga Desember 2013. Pasar murah ini digelar dengan meminta bantuan sejumlah perbankan dan BUMN melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR).
Tujuan pasar murah ini pun meminimalisir gejolak harga jelang Natal dan tahun baru. Namun, jika melihat fakta dan kondisi di lapangan, pasar murah tidak mampu meredam turbulensi harga. Sejumlah bahan pokok dan kebutuhan rumah tangga justru melambung.
Seperti halnya harga gas elpiji 3 kg mencapai harga tertinggi se-Indonesia yaitu Rp 40 ribu per tabung. Ironisnya, beberapa harga yang dijual di pasar murah lebih mahal dari swalayan, mentega 1 kilogram contohnya.
Untuk itu, pengamat Ekonomi Febry Lumbu SE mengatakan, masyarakat meminta agar dana yang digunakan untuk menggelar pasar murah dibeberkan secara transparan ke masyarakat. “Disperindag harus sampaikan hasilnya ke masyarakat, berapa anggaran yang masuk dan keluar,”kata Lumbu kepada sejumlah wartawan.
Sementara Kepala Disperindag Sulut Olvie Ateng beberapa waktu lalu mengakui, jika harga yang dijual di pasar murah lebih mahal dari harga distributor yang dijual timnya. “Memang waktu itu, harga pasar lebih mahal karena memakai harga baru, sedangkan yang di swalayan pakai harga lama,”kilah Ateng.
Khusus untuk laporan penggunaan dana, Ateng meyebut hanya akan melaporkan ke pimpinan dan pemberi bantuan. “Pasti itu, kita akan laporkan secara transparan ke pimpinan dan yg memberikan CSR,”ujarnya.(Nancy)




















