(Penulis : Vebry Deandra)
MENARIK disimak Pemilukada Kabupaten Minahasa yang akan dihelat pada tahun 2018.
Seperti daerah-daerah lainnya di Sulawesi Utara, pasangan Petahana atau Incumbent, Jantje Wowiling Sajow (JWS) dan Ivan Sarundajang (IVANSA) yang terpilih pada Pemilukada tahun 2012 silam sudah terlihat pecah kongsi atau ‘cerai politik’ dan bakal saling beradu bersama calon lainnya di Pemilukada Minahasa 2018.
Kemesraan keduanya sudah tak ada lagi sejak dua tahun pemerintahan JWS-Ivansa berjalan. Banyak anasir mengenai hubungan JWS dan Ivansa yang sudah tak akur lagi tersebut, hingga keduanya harus bercerai dipenghujung Pemilukada 2018, antara lain berhubungan dengan pembagian kekuasaan.
Mirisnya, dengan perang urat syaraf JWS dan IVANSA tersebut membuat pembangunan Minahasa jalan ditempat. Janji-janji politik keduanya saat Pemilukada 2012 silam begitu membuka harapan baru saat itu bagi masyarakat Minahasa mengenai pembangunan infrastruktur bahkan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Maklumlah yang mengusung keduanya adalah partai Wong Cilik yang seharusnya bisa mencontoh kepemimpinan Jokowi baik sebagai Walikota Solo, Gubernur DKI bahkan Presiden RI, Tri Rismaharini di kota Surabaya, ataupun Basuki Tjahya Purnama atau Ahok ketika menjabat Gubernur DKI Jakarta.
Namun apa lacur ? Yah JWS dan IVANSA diibaratkan seperti anak-anak yang saling berebutan mainan. Entah siapa yang memulainya dan siapa yang tampil sebagai pemenang dalam menguasai ‘mainan’ itu tentu bisa ditebak. Namun keretakan keduanya dibayar mahal dengan janji-janji politik yang mungkin masih jauh dari harapan masyarakat Minahasa untuk direalisasikan keduanya.
Bisa dikatakan sindrom kekuasaan merusak segalanya. Seharusnya keduanya menyadari lebih baik menjadi pemimpin merakyat dibandingkan sebagai penguasa yang hanya tahu beretorika saja. Sindrom kekuasaan atau power syndrom hampir selalu dikonotasikan negatif berkaitan dengan perilaku dan sikap mental seseorang yang tidak sehat terhadap kekuasaan. Apalagi kekuasaan menjadi candu, dan itu bahaya bagi masyarakat.
Sehingga keduanya jangan sampaikan masuk kategori In Power Syndrom yakni pejabat atau penguasa yang sedang mabuk dengan kekuasaan atau jabatannya, lupa apa hakikat kekuasaan itu, lupa dari mana dan dari siapa ia peroleh kekuasaan itu, untuk apa misi hakiki jabatan atau kekuasaan itu ? Sehingga saling sikut menyikut untuk yang namanya menjadi orang nomor satu di Minahasa.
Jika JWS dan IVANSA akan bertarung di Pemilukada 2018, mungkin baiknya bercermin dari kepemimpinan atau kutipan beberapa tokoh besar, yakni dari Presiden RI pertama Ir Soekarno yang menyatakan, “Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya.”
Kedua dikatakan Presiden RI ke 4 KH Abdurrahman Wahid atau Gusdur yang menyatakan, “Tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian”.
Yang ketiga adalah kutipan dari Presiden RI ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono yang menyatakan: “Yang penting yang pegang kekuasaan itu harus bisa kontrol dirinya sendiri”.
Terakhir mengutip pernyataan Abraham Lincoln, Presiden Amerika Serikat Ke 16 yang berkuasa tahun 1861 yang menyatakan : “Hampir semua orang bisa menghadapi kesengsaraan, tetapi jika kamu ingin menguji karakter seseorang, beri dia kekuasaan.
Tokoh- tokoh diatas tahu bahwa setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya. Sehingga JWS dan IVANSA yang ‘bercerai’ pada Pemilukada tahun 2018 harus mewaspadai munculnya calon-calon pemimpin Minahasa yang bisa lebih ‘mencuri hati’ masyarakat dengan tampil sebagai tokoh atau pemimpin paripurna yang mengerti apa yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat Minahasa, sehingga tidak tertinggal jauh dari daerah lainnya di Sulawesi Utara.(***)




















